Tampilkan postingan dengan label Yseali 2017. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yseali 2017. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Februari 2022

YSEALI, Halloween Ala Pangeran Cambridge, New England

 Halloween jadi sebuah acara yang ditunggu-tunggu bagi sebagian besar orang Amerika Serikat, banyak rumah yang sudah mulai dihias dengan hiasan yang lucu hingga yang sangat menyeramkan. Halloween sendiri banyak versinya, ada yang mengatakan perayaan untuk menghormati orang yang telah meninggal ada juga yang mengatakan untuk merayakan hasil panen. Karena itu pula akhirnya, ada rumah yang memajang hal-hal yang menyeramkan, ada juga yang memajang jagung atau labu tanah atau malah ada yang menggabungkan keduanya.

Perayaan yang dilakukan pada tanggal 31 Oktober setiap tahunnya ini akhirnya juga menjadi ajang memakai kostum, mulai dari yang menyeramkan hingga yang menggemaskan. Ada yang memakai kostum ala zombie, hantu dan berbagai aksesoris berupa tengkorak. Ada juga yang memakai kostum lucu, seperti badut, binatang bahkan ada juga yang menyerupai selebritis, ya nantinya mereka akan jadi ajang pamer, seberapa totalnya mereka berkreativitas.

Wilayah Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat tempat tinggal saya selama Program YSEALI, setiap tahunnya merayakan Halloween dan menjadi salah satu yang paling heboh dibandingkan tempat-tempat yang lain. Oleh karena itu, orang tua angkat saya meminta saya pulang lebih cepat dari kantor untuk melihat kemeriahan Halloween di Cambridge.

Benar sekali sesampai saya di jalan dekat rumah, jalan yang biasanya sepi, ramai dengan berbagai jenis mahkluk di sana, jalan tersebut ditutup untuk kendaraan bermotor, mulai dari pukul enam petang hingga tengah malam. Saya juga melihat anak-anak, tidak hanya yang berasal dari perumahan tersebut, tetapi juga dari daerah lain datang berkumpul. Hal ini menambah semangat pemilik rumah untuk menghias rumahnya dengan luar biasa, ada yang membuat tengkorak menari sambil menyanyi, ada yang membuat drama zombie berkumpul dan rapat, bahkan rumah yang tepat berada di depan rumah saya membuat video yang bisa dilihat di jendela ada hantu menari-nari, seram tapi juga keren!

Anak-anak kecil mulai berjalan memutari kompleks lengkap dengan keranjang atau tasnya, mereka berlomba-lomba untuk mengumpulkan permen atau coklat yang ada di rumah-rumah dengan mengatakan, "Trick or Treat?". Melihat mereka seperti laiknya anak-anak di Indonesia berlomba untuk mengumpulkan "salam tempel" di hari Raya Idul Fitri atau Idul Adha, hanya saja kostum yang mereka gunakan unik-unik.

Selain anak-anak, orang tuanya juga tidak ketinggalan, mengantarkan anak-anaknya tetapi tidak mau ketinggalan memakai kostum, bahkan ada yang melebihi anaknya. Ada satu keluarga yang menarik perhatian saya, karena mereka memakai kostum Mister Incredible, salah satu karakter animasi Pixar yang jadi favorite saya. Tidak hanya Incredible, tetapi dia juga ditemani istrinya, Elastic Girl, dan anaknya, Teletubbies? Di sini saya mulai gagal paham.

Menggunakan kostum, selain menarik perhatian, juga menjadi permainan yang menyenangkan, menebak dan menceritakan kostum yang digunakan. Saya yang awalnya ditugaskan oleh Hostmom untuk membagikan permen, tertarik untuk mengganti baju yang saya gunakan. Dan akhirnya saya memutuskan memakai kostum, pakaian tradisional Indonesia, ya Pakaian Adat Aceh yang semula sengaja saya bawa untuk dikenakan ketika masa kongres nanti di Washington.
Bersama Mister Incredible dan Elastic Girl
Tapi saya pikir ini menjadi kesempatan yang bagus untuk mempromosikan pakaian dan tempat saya berasal. Ternyata benar pikiran saya, banyak yang tertarik dengan yang saya gunakan, selain mereka tidak bisa menebak, mereka juga tertarik dengan motif bordiran yang ada di pakaian saya, tak jarang juga dari mereka menganggap saya seorang Raja, King of Cambridge! hahaha, dan di situlah cerita tentang Indonesia bermula, hehe.

Acara Halloween pun berakhir pukul 11:30 malam, ketika udara dingin sudah mulai menusuk kulit dan permen di keranjang habis dan semuanya kembali ke rumah masing-masing untuk beristirahat atau pun menikmati waktu bersama keluarganya, seru ya.

Kalau kalian ikut Halloween, bakal pakai baju apa?

Minggu, 27 Februari 2022

YSEALI, Menikmati Keindahan Middlesex Fells Reservation, Massachusetts

Boston selain dikenal sebagai kota Pendidikan karena adanya Harvard dan MIT, dan dikenal dengan kota penuh bangunan bersejarah, penuh dengan artis kreatif, Boston juga terkenal dengan pemandangan yang indah. Ketika saya pertama sekali mendapat info kalau penempatan saya di Boston, saya senang bukan main. Begitu juga dengan orang-orang lain yang mendengar kalau saya bakal tinggal di Boston, semua bahagia, dan akhirnya semua hidup bahagia. (Ini cerita apa)

Bukan…bukan cerita ini yang saya ingin tulis.

Boston terkenal memiliki banyak tempat asyik buat hiking. Walaupun saya di Indonesia bukan termasuk orang yang suka hiking, akhirnya saya mencoba hiking di sini, karena ternyata hiking jadi salah satu kegiatan yang sering dilakukan masyarakat di sini, begitu juga dengan mahasiswa Indonesia yang belajar di sini. Saya sebenarnya mendapat undangan dari salah satu mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Harvard, sebut saja Namanya Waskito dan langsung saja saya iyakan. seperti kata YSEALI, "Never say No". Ya selain saya penasaran dengan tempat yang akan kami tuju, ternyata Waskito mengajak teman-teman Mahasiswa Indonesia yang lain dari kampus yang lain di Boston, sepertinya bakal menyenangkan.

Rute hiking Middlesex Fells
Walaupun sempat tertunda karena perbaikan jalur kereta api dari Harvard ke MIT, akhirnya saya bertemu dengan Waskito, Nanda, Kuni dan Vadya. Kami memutuskan untuk hiking di Middlesex Fells Reservation. Middlesex Fells Reservation salah satu tempat favorit untuk hiking yang ada di sekitar Boston. Untuk menuju ke sana kita menggunakan kereta api menuju akhir dari Orange Line ke Oak Grove, setelahnya mengambil bus tujuan Middlesex Fells.
Valdya, Kuni, Nanda dan Waskito memastikan rute hiking dengan teliti, saya mah ngikut aja ^ 3 ^
Bear Hill Tower
Skyline Trail, rute hiking di puncak bukit 
Perhentian pertama di North Reservoir

Perhentian terakhir di Pine Hill, dari sini kita bisa melihat skyline Kota Boston dan perumahan di sekitar, dan kalau lagi musim gugur akan melihat pohon yang berwarna-warni.
Hijrah, Valdya, Kuni, Nanda, dan Waskito di Pine Hill Middlesex Fells
Note : 

Untuk jadwal perjalanan menuju ke sana coba diperhatikan waktunya di applikasi google map, karena bus menuju Middlesex Fells tidak ada setiap jam.
Lihat rute perjalanan menggunakan aplikasi atau kalau butuh peta yang hardcopy, carilah mini market terdekat, biasanya mereka punya.

Kamis, 24 Februari 2022

YSEALI, Menemukan Islam di Boston

Alhamdulillah, bersyukur di kantor Artists for Humanity toleransi beragama dan beribadah sangat baik. Saya diizinkan untuk melakukan salat lima waktu dan juga mendapatkan izin untuk melakukan salat Jumat di masjid.

Setelah melewati beberapa stasiun subway dari kantor saya, akhirnya saya sampai di Masjid Islamic Society of Boston Cultural Center (ISBCC) yang terletak di Roxburry, Massachusetts. Baru sampai saja terlihat banyak wanita bercadar yang berlalu lalang di sekitar stasiun, sepertinya kawasan ini banyak didiami atau dikunjungi umat Islam di Boston dan sekitarnya.

Masjid Islamic Society of Boston Cultural Center (ISBCC)

Masjid ISBCC tidak hanya menjadi pusat ibadah tetapi juga segala jenis kegiatan yang berkaitan dengan Islam dan pandangan hidup umat Islam. Ada beberapa tempat yang ditampung dan juga aktivitas yang bisa ditemui disini, seperti sekolah, kafe, toko souvenir dan menyediakan tempat untuk aktivitas lain seperti, akikah juga lainnya.

Sesampainya di Masjid ISBCC, saya melihat pemandangan yang luar biasa, mulai dari bangunan yang kontras dengan bangunan di sekitarnya. Selain lantunan ayat suci dan azan yang dikumandangkan dengan merdu oleh bilal-nya, menjadi daya tarik tersendiri, menciptakan suasana kerinduan di Aceh maupun Indonesia. Ya kalau di Indonesia rasanya sangat mudah mencari masjid, disini butuh perjuangan lebih untuk mencapainya.

Setelah saya selesai berwudhu dan masuk ke kamar, saya melihat begitu banyak jamaah yang hadir pada saat itu, semuanya berbeda dari India, Cina, Amerika, Arab dan bahkan dari Afrika. Dan saya lihat juga banyak jemaah wanita yang mengikuti salat Jumat, tidak hanya di lantai satu tapi juga di lantai dua.

Bersama Bpk. Shakh Yasir Fahmy

Usai salat saya bertemu dengan Pak Syakh Yasir Fahmy yang menjadi khatib dan imam pada hari Jumat itu. Orangnya ramah dan bacaan Al-Qur'annya yang merdu bikin tenang. Dia mengatakan selalu ada orang yang datang untuk bertanya atau berdiskusi. Masjid ini juga dapat menampung hingga 1400 orang dan selalu terbuka bagi siapa saja yang datang untuk mengenal Islam dan belajar tentang Islam.

Ada juga paket wisata yang dapat diikuti baik secara pribadi maupun berkelompok, setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 18.00 waktu setempat, namun untuk mengikuti paket tersebut peserta diharuskan membuat janji terlebih dahulu. Saat itu saya melihat sekelompok yang duduk membuat lingkaran untuk berkeliling dan bertanya dengan ISBCC.

Tour mengenal islam

Selain itu banyak program yang dibuat khusus untuk siapa saja, untuk ibu, untuk mualaf dan untuk pemuda dan anak-anak, semuanya dibuat untuk menghidupkan masjid, menjaga silaturahmi dengan jamaahnya dan untuk meningkatkan keimanan.

Menarik ya? Semoga ini bisa menjadi contoh yang baik bagi kita, khususnya bagi masjid-masjid di Aceh.

Jumat, 18 Februari 2022

YSEALI, Tenangnya Homestay di Cambridge, New England

Salah satu yang menarik dari Program YSEALI adalah kita akan tinggal di keluarga asli yang ada di Amerika Serikat, jadi kita akan mengalami langsung pengalaman menjadi orang Amerika, hehe. Ketika saya bercerita kalau saya ditempatkan di Boston, banyak sekali tanggapan positif dari orang-orang yang saya ajak bicara, mulai dari orang-orang Kedutaan Besar Amerika, Kedutaan Besar Indonesia di Amerika, bahkan sampai orang-orang di jalan, iya, agak sedikit mengherankan memang kenapa saya ajak ngobrol orang di jalan, hehe.

Rumah yang saya tinggali selama sebulan
di Program YSEALI, cantik ya
Jujur saja ini pengalaman pertama saya menginjakan kaki ke negeri Paman Sam, sangking saya senangnya jadi norak, haha. Apalagi semua biaya perjalanan ditanggung semua oleh Pemerintah Amerika dan semuanya diurusin, aahhh, kalau dulu cuma bisa bilang, Bahagia sampai Papua, sekarang sudah bisa bilang, bahagia sampai Amerika, hehe. Terimakasih YSEALI!

Selain mengikuti program magang kerja di perusahaan yang saya minta, saya dan teman-teman perwakilan ASEAN lainnya, bisa merasakan langsung kehidupan masyarakat Amerika dengan cara homestay dengan keluarga yang sudah dipilihkan. Saya sendiri walaupun kerja di Boston, saya tinggal dengan keluarga yang tinggal di Cambridge.

Cambridge sendiri merupakan bagian dari Kota Metropolitan Boston yang berada di bagian barat Sungai Charles. Ada tiga universitas tua di Amerika di sana seperti, Universitas Harvard, MIT dan RadCliffe. Karena adanya universitas-universitas itulah, kawasan itu diberi julukan kota pendidikan dan diberinama Cambridge untuk menghormati kota pelajar yang ada di Inggris. Jadi karena saya terpelajar makanya saya ditempatkan di sana, hehe. *Cocokology

Suasana perumahan di Cambridge

Perumahan yang ada di Cambridge sendiri termasuk perumahan yang elit, tertata rapi dan sangat mudah sekali dijangkau dengan transportasi. Saya tinggal dengan keluarga Jennifer Nahas, seorang Ibu dengan dua orang anak, Shopia dan Lucas yang sudah kuliah, ditambah lagi seorang anak kosan, Lena, yang kuliah di Kedokteran Harvard. Untuk Lena ada cerita tersendiri, ya selain dia pintar karena kuliah di Kedokteran Harvard, ada banyak rahasia yang menyeliputi si Putri keturunan Raja dari Syria ini, nah loh kebongkar sedikit, hehe, sabar ya!

Inilah penampakan rumah yang saya tinggali selama satu bulan, nyaman ya? rumah kayu tiga lantai, lengkap dengan basemen dan perapian, ditambah lagi taman di belakang rumah yang berisi tanaman bunga dan sayuran. Saya ketika sampai di rumah ini langsung jatuh cinta, dan satu lagi, warna rumahnya sesuai dengan warna partai pilihan, hehe, apasih.

Tapi memang rumah-rumah di Cambridge rata-rata seperti ini terbuat dari kayu yang disusun bertingkat-tingkat, hanya saja warna yang berbeda-beda dan hampir semua rumah tanpa pagar karena sudah dilengkapi kamera pengaman, dan ditambah lagi tetangga yang baik, lingkungan yang sangat ramah, jadi wajar kalau perumahan di sini termasuk yang punya nilai tinggi.

Bingkisan dari Globalimmersions.inc
Program homestay ternyata sudah jadi program hampir semua masyarakat di sini, jadi ketika saya dan teman-teman lainnya sampai di rumah, kami sudah disambut dengan surat dan bingkisan lucu dari koordinator homestay Boston, Global Immersion.inc. Surat-surat lengkap untuk hal-hal yang boleh atau tidak boleh dilakukan di rumah, transportasi dan jalur yang boleh digunakan, hingga jenis simcard HP yang bisa kita gunakan, lengkap. Jadi saya yang sangat awam dengan kota Boston dan sekitarnya, sangat terbantu.

Malah ada lombanya juga untuk mendapatkan bingkisan menarik lainnya dari mereka.

Bersama Ibu angkat saya
Beruntung sekali saya ditempatkan di Keluarga Nahas. Jennifer sendiri sebagai seorang single parent sangat baik ke anak-anaknya, termasuk saya dan Lena yang termasuk pendatang di rumahnya. Saya dan Lena juga termasuk dengan mereka karena beragama Islam. Tapi yang bikin terharu Ibu angkat saya ini bela-belain belajar untuk menyiapkan makanan halal, jadi saya sangat-sangat terjamin makan, walaupun ternyata si ibu lagi program diet, jadilah rasa masakannya gitu deh, tapi pilihannya, saya makan masakannya atau pilih makan Salad yang isinya daun-daun saja, makaaaaa, saya pilih...... masakan ibu, hehehe.

Selain orang ada lagi penghuni rumah, kucing lucu bernama Bubbles, tapi sering muncul kalau sedang lapar saja, persis, ya persis saya, haha.

Ada banyak cerita seru di rumah, nantinya saya akan ceritakan di postingan-postingan selanjutnya.

Welcome to Nahass Home, Have a good day!

Jumat, 27 Oktober 2017

Introduce Aceh to America

With The Teens at 3D Studio AFH
Working in Artists for Humanity became an unforgettable experience for me, being able to work in a company that has a concept that has been my dream all along. Artists for Humanity is a creative company located in Boston, Massacussets, United States.
This social company started in 1991 when Susan Rodgerson as Founder and Artistic Director met with youngsters in schools who have skills in the arts, especially painting. But they are not yet convinced of their ability to become one of the future careers.
Susan invites them, especially Rob Gibbs and Jason Talbot who are 14 and 15 years old to make the project together and produce. In the end they form the Artists for Humanity to accommodate, give the same place and opportunity for young people who have the same conditions with them.
Until now Artists for Humanity invites young people to work with mentors to create creative works to solve problems that exist in the environment and also meet client demand. Combining creative processes for social change and also helping to change lives financially for young people.
25 Years already, nearly 3,000 young people have already worked and reach up to 12,000 young people in arts and entrepreneurship activities. All come from schools in Boston, from different skin types, sex and various languages.
Every Tuesday through Thursday, young people, especially school children, once school starts from three to six o'clock, they can intern at Artists for Humanity. They make artwork, such as painting, collage, 3D, graphic design, video, and photos.
Later their work will be sold or rented to companies in need of art, and young people whose work is bought or rent will earn commissions. During the apprenticeship they will be accompanied by mentors, learning to produce works that have a decent quality to sell. Interestingly, the mentor here does not give instructions or orders, but invites young people to discuss and think scientifically, because the technique used STEAM (Science, Technology, Engineering and Mathematics).
In the process, Artists for Humanity not only helps financially young people in Boston, but also motivates them to solve their educational problems. Many are ultimately motivated to complete their education and move on to a higher level with positive motivation.
There are approximately 40 full-time workers in Artist for Humanity, from director, mentor, finance, management and development, 3D mentor, painting mentor, graphic design mentor, photography mentor and animation mentor. Everything is gathered with the power of dreams of a Susan. She said, "do something positive for others and pass it on, and magic will come."
In addition to studying, I have the opportunity to teach young people who are apprenticing in 3D Studio to get to know Aceh and Indonesia through Creative Class that I usually do with The Leader friends. We make Piyohtoys with kokoru paper material that I brought from Indonesia.
Susan see the Piyohtoys
They learn how to create personal characters with paper materials and get to know Indonesia through the characters I create. And it turns out the work we make makes us know Indonesia and America closer. And interestingly, Susan, Director of Artists for Humanity and Rich Mark, Marketing Director is interested in the concept and is waiting for the sale of the product to the international network.
And this becomes our next homework, can we accept this challenge?
* Program Participants The Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) Professional Fellows Economic Empowerment Fall 2017 represents Indonesia.