Tampilkan postingan dengan label Yseali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yseali. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Februari 2022

YSEALI, Menyusuri The Freedom Trail Boston

Saat saya bertanya kepada teman saya yang lama tinggal dan kuliah di Boston, tempat mana saja yang harus saya kunjungi ketika di Boston, dia menjawab, “ada banyak tempat yang bisa dikunjungi daaan….. harus mencoba Freedom Trail!”

Freedom Trail? Apa itu?

Rasa penasaran saya terjawab ketika saya sampai di Boston.

Boston The Freedom Trail Sign
Boston memang kota bersejarah di Massachusetts, ada banyak sekali bangunan bersejarah di sana. Tidak hanya bangunan bersejarah saja, tetapi peristiwa bersejarah di sana dikemas dalam paket yang menarik, jadi kita bisa merasakan cerita-cerita masa lalu Boston hadir lagi di kota.

Kita akan menyusuri Freedom Trail di Boston yang ditandai dengan jalur Bata Merah, kita bisa menyusuri 16 tempat bersejarah di Boston yang terkait dengan Revolusi Amerika.

Kita bisa berjalan kaki selama kurang lebih 4 jam tour atau menggunakan bus atau mobil bebek. Untuk mulainya bisa dari mana saja, asalkan kita mengikuti jalurnya, tetapi lebih disarankan mulai dari Boston Common Visitor Center dan berakhir di Bunker Hill Monumen di Charles Town.

Urutan tampat yang bisa dikunjungi kalau menyusuri Freedom Trailnya adalah : Visitor Center – State House – Granary Burying Ground – King’s Chapel – Old Corner Bookstore – Old South Meeting House – Boston Old State House (dekat stasiun State Street) – Boston Massacre Site –Faneuil Hall – Paul Revere House – Old North Church – Copp’s Hill Burying Ground – Bunker Hill Monument.
Boston The Freedom Trail Rute

Saya dan teman-teman Profellows YSEALI lainnya, Seng Thong (Laos), Archie (Philipine) dan Sreneang (Cambodia) menyusuri mulai dari Faneuil Hall dengan rute yang random sampai kami capek, hehe.
Bus yang bisa dipakai untuk tour

Boston Duck Tours yang bisa berjalan di atas air
1. Boston Common
Perjalanan bisa kita mulai dari Boston Common, taman tertua yang ada di Amerika Serikat, pada awalnya digunakan sebagai ladang peternakan domba yang kemudian dipakai sebagai tempat pelatihan militer.

2. Massachusetts State House
Dibangun pada Tahun 1798, digunakan sebagai pusat pemerintahan Massachusetts. Boleh dikunjungi setiap jam 9 pagi hingga 5 sore.

3. Boston Massacre Site

























4. Boston Old State House
5. Copp’s Hill Burying Ground 
Copp's Hill Burying Ground
6. Old South Meeting House
7. Faneuil Hall 
8. Bunker Hill Monument.
Bunker Hill Monument
Menariknya selama perjalanan Freedom Trail, kita akan bertemu dengan orang-orang yang memakai pakaian tempo dulu, dan biasanya mereka akan menjelaskan tentang Freedom Trail dan mau berfoto dengan kita, menarik ya.
Faneuil Hall

YSEALI, Tempat-tempat yang Wajib Kamu Kunjungi di Universitas Harvard

Mengunjungi Universitas Harvard menjadi salah satu agenda yang tidak boleh dilewatkan kalau kita datang ke Massachussetts apalagi kalau tinggaldi Cambridge dan sekitarnya. Terkenal sebagai salah satu kampus terbaik di Amerika Serikat bahkan di dunia. Siapa yang tidak mengenal Universitas Harvard, perguruan tinggi ini telah mencetak sarjana yang berkelas.

Terminal Bus Harvard
Harvard hampir selalu bertengger di puncak peringkat universitas ternama di dunia dan termasuk kampus yang tertua di Amerika. Lokasinya sendiri sebenarnya berada di Cambridge, tetapi karena berdekatan dengan pusat Kota Boston, jadi lebih sering diketahui sebagai salah satu kampus di Boston.

Kampus ini dirintis pada tahun 1636 oleh sembilan mahasiswa dan seorang dosen bernama Jhon Harvard of Charleston. Seorang pastor yang menyumbangkan perpustakaan dan tanahnya. Awalnya bernama College at Newtowne, namun pada tahun 1638 diganti menjadi Harvard College dan pada 1780 diubah menjadi Harvard University.
Patung John Harvard

Sekarang sudah kurang lebih 21.225 pekerja dan luas wilayahnya mencapai 85 ha, semuanya banyak didapat dari sumbangan dari mahasiswa yang dulunya pernah belajar atau hibah dari keluarganya. Hal ini menunjukan betapa mereka mendukung penuh perkembangan pendidikan di sini.

Kampus ini pun didukung dengan peralatan praktek perkuliahan yang canggih dan modern, mahasiswanya pun diberikan kebebasan untuk melakukan penelitian. Harvard juga menerima mahasiswa berasal dari keluarga tidak mampu dan menggratiskan biaya kuliah. Harvard terkenal dengan warna merah bata atau Crimson dengan mottonya Veritas, berasal dari Bahasa Latin yang berarti kebenaran. Karena penuh dengan bangunan tua dan sejarah yang menarik, selalu ada penawaran paket wisata untuk berkeliling kampus, kita cukup membayar $12 untuk mengikuti paketnya. Jadwalnya sendiri setiap setengah jam, mulai dari pukul 10:00 hingga 16:30 waktu setempat.

Tour Harvard dimulai dari sini
Universitas Harvard memilki sembilan fakultas ternama, yaitu Harvard Faculty of Arts and Sciences, Harvard Medical School, Harvard Divinity School, Harvard Law School, Harvard Bussiness School, Harvard Graduate School of Design, Harvard Graduate School of Education, Harvard School of Public Health dan Kennedy School of Government. Dan semua fakultas ini didirikan sejak abad ke-19.

Saya tinggal di Cambridge, jaraknya hanya 15-20 menit berjalan kaki menuju Harvard University dan hampir setiap hari melewatinya, karena termasuk dalam rute perjalanan ke kantor. Tapi kali ini saya dapat kesempatan berharga berkeliling Harvard ditemani oleh mahasiswa Harvard yang berasal dari Indonesia. Menariknya karena saya bisa masuk ke beberapa tempat yang hanya khusus bisa dimasuki oleh mahasiswa dan saya mendapat tour lengkap dengan gratis, hehe.

Ada beberapa tempat menarik yang saya kunjungi di Universitas Harvard melalui paket tour di Harvard yaitu:

1. Patung John Harvard
Patung John Harvard menjadi lokasi favorit untuk foto, dan ada mitos yang beredar jika bisa foto dan memegang ujung sepatunya yang berwarna emas itu, maka anak kita akan bisa kuliah di sana.

2. Gerbang Johnston
Harvard memiliki 26 gerbang besar dan kecil yang mengelilinginya. Gerbang Johnston ini berada di tengah, menurut mitos hanya boleh dilewati dua kali, jika lebih dari itu maka akan membuat mahasiswa di DO. Namanya sendiri diambil dari nama seorang mahasiswa Samuel Johnston yang menyumbangkan 10.000 dolar untuk pembangunan gerbang tersebut.

3. Perpustakaan Harry Elkin Widener
Perpustakaan Widener, perpustakaan ini termasuk nomor dua terbesar di dunia setelah perpustakaan Kongres AS. Nama perpustakaan ini diambil dari nama mahasiswa yang lulus dari Harvard dan menyumbang dananya untuk pembangunan perpustakaan. Dananya diberikan oleh keluarganya karena Harry sendiri meninggal sebagai salah satu korban Kapal Titanic pada tahun 1912.

Perpustakaan Harry Elkin Widener
Perpustakaan ini terdiri dari lima lantai di atas tanah dan empat lantai di bawah tanah. Memiliki koleksi buku cetak mencapai 15 juta judul, buku digital mencapai 18 juta judul dan jumlah foto ada 8 juta buah. Super lengkap! Menariknya mahasiswa bisa mengajukan judul atau jenis buku yang ingin dibaca tetapi tidak ada di perpustakaan dan akan dicari.

4. Harvard Art Museum
Museum yang berisi karya-karya seni yang dibuat oleh manusia dari jaman dahulu dari 4.000 tahun sebelum masehi hingga modern dari beberapa negara. Mulai dari Asia, Timur Tengah, Romawi, Yunani dan masih banyak lagi, sehingga kita tahu perkembangan karya seni di dunia.
Harvard Law School
5. Harvard Law School
Salah satu fakultas yang diincar banyak orang hebat dan menghasilkan banyak orang-orang hebat di dunia, salah satunya Presiden Obama. Wajar jika fakultas ini dijadikan salah satu fakultas terbaik. Dan ketika saya mengunjungi perpustakaanya di akhir pekan masih banyak mahasiswa yang belajar dengan serius di sana.


6. The Coop
Nah yang ini wajib buat yang ingin punya merchandise Harvard, ada banyak koleksi lengkap dengan desain Harvard, mulai dengan kaos, hoodie, sweater yang berwarna merah bata khas Harvard atau hanya sekedar huruf H besar di semua produknya, dan saya suka, karena H for Hijrah, hahaha. Sebenarnya ada banyak lagi outlet yang menjual merchandise Harvard di sekitaran kampus, tapi di The Coop koleksinya lengkap dan kualitas terjamin.
Menarik ya, paket tour berkeliling kampus Harvard University termasuk banyak peminatnya, termasuk peringkat pertama sebagai atraksi wisata versi Tripadvisor. Untuk sebagian mahasiswa Harvard yang membuka tour keliling Harvard, yaitu membuka kesempatan untuk mahasiswa yang tertarik dengan sejarah.

Mereka juga bisa mendapatkan tambahan uang untuk kebutuhan kuliah, melatih mereka untuk bercerita, dan meningkatkan kecintaan terhadap kampusnya, saya melihat beberapa mahasiswa yang menjadi pemandu terlihat sangat antusias bercerita tentang kampusnya ini.

Jumat, 18 Februari 2022

YSEALI, Tenangnya Homestay di Cambridge, New England

Salah satu yang menarik dari Program YSEALI adalah kita akan tinggal di keluarga asli yang ada di Amerika Serikat, jadi kita akan mengalami langsung pengalaman menjadi orang Amerika, hehe. Ketika saya bercerita kalau saya ditempatkan di Boston, banyak sekali tanggapan positif dari orang-orang yang saya ajak bicara, mulai dari orang-orang Kedutaan Besar Amerika, Kedutaan Besar Indonesia di Amerika, bahkan sampai orang-orang di jalan, iya, agak sedikit mengherankan memang kenapa saya ajak ngobrol orang di jalan, hehe.

Rumah yang saya tinggali selama sebulan
di Program YSEALI, cantik ya
Jujur saja ini pengalaman pertama saya menginjakan kaki ke negeri Paman Sam, sangking saya senangnya jadi norak, haha. Apalagi semua biaya perjalanan ditanggung semua oleh Pemerintah Amerika dan semuanya diurusin, aahhh, kalau dulu cuma bisa bilang, Bahagia sampai Papua, sekarang sudah bisa bilang, bahagia sampai Amerika, hehe. Terimakasih YSEALI!

Selain mengikuti program magang kerja di perusahaan yang saya minta, saya dan teman-teman perwakilan ASEAN lainnya, bisa merasakan langsung kehidupan masyarakat Amerika dengan cara homestay dengan keluarga yang sudah dipilihkan. Saya sendiri walaupun kerja di Boston, saya tinggal dengan keluarga yang tinggal di Cambridge.

Cambridge sendiri merupakan bagian dari Kota Metropolitan Boston yang berada di bagian barat Sungai Charles. Ada tiga universitas tua di Amerika di sana seperti, Universitas Harvard, MIT dan RadCliffe. Karena adanya universitas-universitas itulah, kawasan itu diberi julukan kota pendidikan dan diberinama Cambridge untuk menghormati kota pelajar yang ada di Inggris. Jadi karena saya terpelajar makanya saya ditempatkan di sana, hehe. *Cocokology

Suasana perumahan di Cambridge

Perumahan yang ada di Cambridge sendiri termasuk perumahan yang elit, tertata rapi dan sangat mudah sekali dijangkau dengan transportasi. Saya tinggal dengan keluarga Jennifer Nahas, seorang Ibu dengan dua orang anak, Shopia dan Lucas yang sudah kuliah, ditambah lagi seorang anak kosan, Lena, yang kuliah di Kedokteran Harvard. Untuk Lena ada cerita tersendiri, ya selain dia pintar karena kuliah di Kedokteran Harvard, ada banyak rahasia yang menyeliputi si Putri keturunan Raja dari Syria ini, nah loh kebongkar sedikit, hehe, sabar ya!

Inilah penampakan rumah yang saya tinggali selama satu bulan, nyaman ya? rumah kayu tiga lantai, lengkap dengan basemen dan perapian, ditambah lagi taman di belakang rumah yang berisi tanaman bunga dan sayuran. Saya ketika sampai di rumah ini langsung jatuh cinta, dan satu lagi, warna rumahnya sesuai dengan warna partai pilihan, hehe, apasih.

Tapi memang rumah-rumah di Cambridge rata-rata seperti ini terbuat dari kayu yang disusun bertingkat-tingkat, hanya saja warna yang berbeda-beda dan hampir semua rumah tanpa pagar karena sudah dilengkapi kamera pengaman, dan ditambah lagi tetangga yang baik, lingkungan yang sangat ramah, jadi wajar kalau perumahan di sini termasuk yang punya nilai tinggi.

Bingkisan dari Globalimmersions.inc
Program homestay ternyata sudah jadi program hampir semua masyarakat di sini, jadi ketika saya dan teman-teman lainnya sampai di rumah, kami sudah disambut dengan surat dan bingkisan lucu dari koordinator homestay Boston, Global Immersion.inc. Surat-surat lengkap untuk hal-hal yang boleh atau tidak boleh dilakukan di rumah, transportasi dan jalur yang boleh digunakan, hingga jenis simcard HP yang bisa kita gunakan, lengkap. Jadi saya yang sangat awam dengan kota Boston dan sekitarnya, sangat terbantu.

Malah ada lombanya juga untuk mendapatkan bingkisan menarik lainnya dari mereka.

Bersama Ibu angkat saya
Beruntung sekali saya ditempatkan di Keluarga Nahas. Jennifer sendiri sebagai seorang single parent sangat baik ke anak-anaknya, termasuk saya dan Lena yang termasuk pendatang di rumahnya. Saya dan Lena juga termasuk dengan mereka karena beragama Islam. Tapi yang bikin terharu Ibu angkat saya ini bela-belain belajar untuk menyiapkan makanan halal, jadi saya sangat-sangat terjamin makan, walaupun ternyata si ibu lagi program diet, jadilah rasa masakannya gitu deh, tapi pilihannya, saya makan masakannya atau pilih makan Salad yang isinya daun-daun saja, makaaaaa, saya pilih...... masakan ibu, hehehe.

Selain orang ada lagi penghuni rumah, kucing lucu bernama Bubbles, tapi sering muncul kalau sedang lapar saja, persis, ya persis saya, haha.

Ada banyak cerita seru di rumah, nantinya saya akan ceritakan di postingan-postingan selanjutnya.

Welcome to Nahass Home, Have a good day!

YSEALI, Artists For Humanity, Cara Kreatif para Seniman Boston

Bekerja di Artists for Humanity beberapa bulan lalu menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi saya, karena bisa bekerja di perusahaan yang memiliki konsep kreatif yang menjadi impian saya selama ini. Artists for Humanity (AFH) adalah perusahaan kreatif yang berada di Boston, Massacussets, Amerika Serikat.

Kegiatan bersama pelajar yang mengambil program 3D

Perusahaan sosial ini bermula pada 1991 ketika Susan Rodgerson sebagai Founder dan Artistic Director bertemu dengan anak-anak muda di sekolah yang memiliki kemampuan di bidang seni terutama melukis. Tetapi mereka belum yakin dengan kemampuan mereka bisa menjadi salah satu karier di masa depan.

Bersama Susan Rodgerson, Founder AFH
Susan mengajak mereka, terutama Rob Gibbs dan Jason Talbot yang berumur 14 dan 15 tahun untuk membuat proyek bersama dan menghasilkan. Pada akhirnya mereka membentuk Artists for Humanity untuk mewadahi, memberi tempat dan kesempatan yang sama bagi anak-anak muda yang memiliki kondisi yang sama dengan mereka.

Hingga sekarang Artists for Humanity mengajak anak-anak muda bekerjasama dengan mentor untuk membuat karya-karya kreatif untuk menyelesaikan masalah yang ada di lingkungan dan juga memenuhi permintaan klien. Menggabung proses kreatif untuk perubahan sosial dan juga membantu perubahan hidup secara finansial untuk anak-anak muda.

25 Tahun sudah, hampir 3.000 anak muda yang sudah pernah berkerja dan menjangkau hingga 12.000 anak muda dalam kegiatan seni dan wirausaha. Semua berasal dari sekolah yang ada di Boston, dari berbagai jenis kulit, jenis kelamin dan berbagai bahasa.

Setiap Selasa hingga Kamis, anak-anak muda terutama anak sekolah, begitu sekolah usai mulai pukul tiga hingga pukul enam sore, mereka bisa magang di Artists for Humanity. Mereka membuat karya seni, seperti lukisan, kolase, 3D, desain grafis, video, dan foto.
Bersama mentor dan pelajar, berbagi cerita tentang Piyoh dan Indonesia
Kegiatan di Studio Melukis
Rob Gibbs, Mentor Painting
Nantinya hasil karya mereka akan dijual atau disewakan ke perusahaan-perusahaan yang membutuhkan karya seni, dan anak-anak muda yang karyanya dibeli atau disewa akan mendapatkan komisi. Selama magang mereka akan didampingi oleh mentor, belajar untuk menghasilkan karya-karya yang memiliki kualitas yang layak jual. Menariknya mentor di sini tidak memberikan instruksi atau perintah, tetapi mengajak anak-anak muda untuk diskusi dan berpikir secara ilmiah, karena yang digunakan adalah teknik STEM (Science, Technology, Engineering and Mathematics).

Secara proses, Artists for Humanity tidak hanya membantu finansial anak-anak muda di Boston, tetapi juga memotivasi mereka untuk menyelesaikan masalah pendidikan mereka. Banyak yang akhirnya termotivasi untuk menyelesaikan pendidikan mereka dan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi dengan motivasi yang positif.
Salah satu outlet AFH di Boston
Ada kurang lebih 40 pekerja tetap yang ada di Artist for Humanity, mulai dari direktur, mentor, finansial, manajemen dan development, mentor 3D, mentor melukis, mentor desain grafis, mentor fotografi dan mentor animasi. Semuanya terkumpul dengan kekuatan mimpi dari seorang Susan. Dia berkata, "lakukan hal yang positif untuk orang lain dan menyebarkannya, dan keajaiban akan datang."

Selain belajar, saya dapat kesempatan mengajarkan anak-anak muda yang sedang magang di Studio 3D untuk mengenal Aceh dan Indonesia melalui Kelas Kreatif yang biasa saya lakukan dengan teman-teman The Leader. Kami membuat Piyohtoys dengan bahan kokoru paper yang saya bawa dari Indonesia.
Mereka belajar bagaimana membuat karakter pribadi dengan bahan kertas dan mengenal Indonesia melalui karakter yang saya buat.Ternyata hasil karya yang kami buat membuat kami mengenal Indonesia dan Amerika lebih dekat, dan yang menariknya, Susan, Direktur Artists for Humanity dan Rich Mark, Direktur Marketing tertarik dengan konsepnya dan menunggu untuk penjualan produk tersebut ke jaringan internasional, wow! jadi tambah semangat ini.
Bersama Laurence, supervisor saya dan Susan, Founder AFH di acara Farewell party

YSEALI, Anak Muda Aceh Ini Wakili Indonesia Ikut Program Profesional ke Amerika

BANDA ACEH — Pemilik Piyoh Design Hijrah Saputra, akan terbang ke Amerika untuk mengikuti Program  The Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) Profesional Fellows Economic Empowerment Fall 2017 mewakili Indonesia.


Hijrah dipilih mewakili 10 negara ASEAN setelah melalui proses seleksi berkas dan wawancara. Setelah melewati seleksi sekitar 300 orang, akhirnya terpilih enam peserta mewakili Indonesia.

“YSEALI adalah program bergengsi yang diselenggarakan US Ambassy untuk memberikan kesempatan kepada professional-profesional muda di 10 negara ASEAN. Para peserta akan belajar dan merasakan langsung selama enam minggu berhubungan dengan para pekerja professional di Amerika, baik di pemerintahan, lembaga nonpemerintah, organisasi, dan bisnis pribadi,” kata Hijrah kepada portalsatu.com, Kamis, 5 Oktober 2017.

Selain merasakan bekerja dan membuka jaringan langsung dengan dunia internasional kata Hijrah, para delegasi akan tinggal langsung di rumah salah satu keluarga yang ada di sana, untuk belajar dan sekaligus merasakan hidup sebagai warga Amerika.

Program ini dilaksanakan mulai 10 Oktober hingga 17 November 2017 yang dilaksanakan di beberapa Negara bagian di Amerika.

“Untuk permulaan semua delegasi akan berkumpul di Washington untuk mendapatkan pembekalan orientasi program selama dua hari, kemudian dilanjutkan ke negara bagian penempatan, selama satu bulan, yang diakhiri dengan konferensi seluruh delegasi kembali ke Washington,” ujar pengusaha muda asal Sabang itu.

Hijrah sendiri mendapatkan kesempatan bekerja di Artists For Humanity, salah satu perusahaan yang bergerak di bidang kreatif di Boston, Massachuset.

Hijrah berharap Program YSEALI Profesional Fellows ini bisa menjadi media belajar bersama artis-artis di Amerika dan membuka jaringan dengan Pemerintah Amerika, terutama untuk pengembangan dunia kreatif di Sabang dan Aceh secara umum.

“Dan nantinya semakin banyak terbuka kesempatan untuk generasi muda professional Aceh lainnya yang berkesempatan belajar di Amerika,” kata Hijrah.

Selain Hijrah Saputra dari Aceh, lima profesional muda Indonesia lainnya yang lolos program ini yaitu Tisha Rumbewas, pemilik dan penggagas Sagu Foundation dari Papua; Nasarudin, penggerak Euronesia Sulawesi Selatan; Vidya Spay, dosen dan arsitek dari Solo; Annisa Hasanah, penggagas Ecofunopoly dari Bogor dan Muhammad Romdoni; penggerak KUSP Panyawungan dari Garut.[]

Sumber : https://portalsatu.com/pengusaha-muda-aceh-ini-wakili-indonesia-ikut-program-profesional-ke-amerika/

Jumat, 27 Oktober 2017

Introduce Aceh to America

With The Teens at 3D Studio AFH
Working in Artists for Humanity became an unforgettable experience for me, being able to work in a company that has a concept that has been my dream all along. Artists for Humanity is a creative company located in Boston, Massacussets, United States.
This social company started in 1991 when Susan Rodgerson as Founder and Artistic Director met with youngsters in schools who have skills in the arts, especially painting. But they are not yet convinced of their ability to become one of the future careers.
Susan invites them, especially Rob Gibbs and Jason Talbot who are 14 and 15 years old to make the project together and produce. In the end they form the Artists for Humanity to accommodate, give the same place and opportunity for young people who have the same conditions with them.
Until now Artists for Humanity invites young people to work with mentors to create creative works to solve problems that exist in the environment and also meet client demand. Combining creative processes for social change and also helping to change lives financially for young people.
25 Years already, nearly 3,000 young people have already worked and reach up to 12,000 young people in arts and entrepreneurship activities. All come from schools in Boston, from different skin types, sex and various languages.
Every Tuesday through Thursday, young people, especially school children, once school starts from three to six o'clock, they can intern at Artists for Humanity. They make artwork, such as painting, collage, 3D, graphic design, video, and photos.
Later their work will be sold or rented to companies in need of art, and young people whose work is bought or rent will earn commissions. During the apprenticeship they will be accompanied by mentors, learning to produce works that have a decent quality to sell. Interestingly, the mentor here does not give instructions or orders, but invites young people to discuss and think scientifically, because the technique used STEAM (Science, Technology, Engineering and Mathematics).
In the process, Artists for Humanity not only helps financially young people in Boston, but also motivates them to solve their educational problems. Many are ultimately motivated to complete their education and move on to a higher level with positive motivation.
There are approximately 40 full-time workers in Artist for Humanity, from director, mentor, finance, management and development, 3D mentor, painting mentor, graphic design mentor, photography mentor and animation mentor. Everything is gathered with the power of dreams of a Susan. She said, "do something positive for others and pass it on, and magic will come."
In addition to studying, I have the opportunity to teach young people who are apprenticing in 3D Studio to get to know Aceh and Indonesia through Creative Class that I usually do with The Leader friends. We make Piyohtoys with kokoru paper material that I brought from Indonesia.
Susan see the Piyohtoys
They learn how to create personal characters with paper materials and get to know Indonesia through the characters I create. And it turns out the work we make makes us know Indonesia and America closer. And interestingly, Susan, Director of Artists for Humanity and Rich Mark, Marketing Director is interested in the concept and is waiting for the sale of the product to the international network.
And this becomes our next homework, can we accept this challenge?
* Program Participants The Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) Professional Fellows Economic Empowerment Fall 2017 represents Indonesia.