Tampilkan postingan dengan label American Council. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label American Council. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Februari 2022

YSEALI, Menikmati Keindahan Middlesex Fells Reservation, Massachusetts

Boston selain dikenal sebagai kota Pendidikan karena adanya Harvard dan MIT, dan dikenal dengan kota penuh bangunan bersejarah, penuh dengan artis kreatif, Boston juga terkenal dengan pemandangan yang indah. Ketika saya pertama sekali mendapat info kalau penempatan saya di Boston, saya senang bukan main. Begitu juga dengan orang-orang lain yang mendengar kalau saya bakal tinggal di Boston, semua bahagia, dan akhirnya semua hidup bahagia. (Ini cerita apa)

Bukan…bukan cerita ini yang saya ingin tulis.

Boston terkenal memiliki banyak tempat asyik buat hiking. Walaupun saya di Indonesia bukan termasuk orang yang suka hiking, akhirnya saya mencoba hiking di sini, karena ternyata hiking jadi salah satu kegiatan yang sering dilakukan masyarakat di sini, begitu juga dengan mahasiswa Indonesia yang belajar di sini. Saya sebenarnya mendapat undangan dari salah satu mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Harvard, sebut saja Namanya Waskito dan langsung saja saya iyakan. seperti kata YSEALI, "Never say No". Ya selain saya penasaran dengan tempat yang akan kami tuju, ternyata Waskito mengajak teman-teman Mahasiswa Indonesia yang lain dari kampus yang lain di Boston, sepertinya bakal menyenangkan.

Rute hiking Middlesex Fells
Walaupun sempat tertunda karena perbaikan jalur kereta api dari Harvard ke MIT, akhirnya saya bertemu dengan Waskito, Nanda, Kuni dan Vadya. Kami memutuskan untuk hiking di Middlesex Fells Reservation. Middlesex Fells Reservation salah satu tempat favorit untuk hiking yang ada di sekitar Boston. Untuk menuju ke sana kita menggunakan kereta api menuju akhir dari Orange Line ke Oak Grove, setelahnya mengambil bus tujuan Middlesex Fells.
Valdya, Kuni, Nanda dan Waskito memastikan rute hiking dengan teliti, saya mah ngikut aja ^ 3 ^
Bear Hill Tower
Skyline Trail, rute hiking di puncak bukit 
Perhentian pertama di North Reservoir

Perhentian terakhir di Pine Hill, dari sini kita bisa melihat skyline Kota Boston dan perumahan di sekitar, dan kalau lagi musim gugur akan melihat pohon yang berwarna-warni.
Hijrah, Valdya, Kuni, Nanda, dan Waskito di Pine Hill Middlesex Fells
Note : 

Untuk jadwal perjalanan menuju ke sana coba diperhatikan waktunya di applikasi google map, karena bus menuju Middlesex Fells tidak ada setiap jam.
Lihat rute perjalanan menggunakan aplikasi atau kalau butuh peta yang hardcopy, carilah mini market terdekat, biasanya mereka punya.

Minggu, 20 Februari 2022

YSEALI, Mengunjungi MIT, Pusatnya Para Peneliti Terbaik di Dunia

Massachusetts yang berpopulasi sekitar 560.000 jiwa dan terletak pada ketinggian 6 meter di atas permukaan laut, terkenal sebagai daerah Pendidikan. Ada paling tidak 32 perguruan tinggi di wilayah dalam Kota Boston dan sekitar 65 perguruan tinggi jika dihitung hingga batas pinggiran luar kotanya. Karena itu setiap tahun, biasanya di bulan September, populasinya membengkak dengan sekitar 130.000 mahasiswa yang datang dari penjuru dunia, termasuk saya, hehe ngarep.

Dari sensus tahun 1990 tercatat bahwa separuh dari penduduk Boston, yang disebut Bostonian, adalah mahasiswa. Fakta selanjutnya menunjukkan bahwa Boston mempunyai angkatan kerja yang berpendidikan terbaik di seluruh Amerika, hebat ya.

Massachusetts Institute of Technology
Salah satu universitas terbaik yang akan saya ceritakan saat ini adalah MIT, bagi yang suka baca Komik Q.E.D karya Motohirou Katou pasti tidak asing lagi dengan kampus ini. Kampus-nya So Toma, Massachusetts Institute of Technology atau MIT adalah institusi riset swasta dan universitas yang terletak di kota Cambridge, Massachusetts, tepatnya di seberang Sungai Charles dari distrik Back Bay, kurang lebih tiga kilometer dari Universitas Harvard. Kita bisa menggunakan subway atau pun bus dari Harvard atau pun sebaliknya.
Sekolah ini didirikan tahun 1861 oleh William Barton Rogers. dan baru pada tahun 1916 pindah ke kompleks yang sekarang ini. Bidang-bidang studi yang dipelajari di MIT di antaranya Architechtur and Planning, Engineering, Humanities, Social Science, Health Science and Technology juga Management.   Dalam kurun waktu 60 tahun belakangan ini, MIT telah mengembangkan cabang lain seperti manajemen, ekonomi, ilmu politik, dan biologi.

MIT hingga kini menjadi andalan Amerika di bidang riset dan pengembangan khususnya yang berkaitan dengan industri elektronika dan komunikasi. Pada tahun 1929, komputer yang pertama kali dikembangkan di MIT, yang kemudian memantapkan posisinya sebagai yang terdepan di bidang teknologi tinggi (hi-tech). Ditunjang oleh semakin banyaknya perusahaan yang bergerak di bidang hi-tech di wilayah ini, maka tidak heran kalau MIT bangga dengan mengidentikkan dirinya sebagai A Campus Built For Innovation.
A Campus Built For Innovation
Departemen dan sekolah yang paling terkenal adalah Lincoln Laboratory, Computer Science and Artificial Intelligence Laboratory, Media Lab, Whitehead Institute dan Sloan School of Management. 59 dari anggota dari komunitas MIT telah memenangkan Penghargaan Nobel.

Kampus MIT Terbagi menjadi 2 bagian oleh Massachusetts Avenue, dengan asrama mahasiswa dan fasilitas untuk mahasiswa terdapat di sebelah barat dan sekolahnya di sebelah timur. Juga terdapat jaringan kereta api dekat Kendall Square yang terletak di sebelah timur laut kampus ini. Di sekeliling bangunan kampusnya terdapat banyak sekali perusahaan teknologi.
MIT Dome, makes everyone can fly ^ 3 ^
Berbeda dengan Harvard, mahasiswa di sini terlalu serius, hehe. Tapi wajar dengan prestasi dan hasil yang mereka dapatkan. Yang menarik dari kampus ini, ada banyak scuplture unik dan futuristik. Selain itu, jadi tempat favorite saya dan teman-teman Bostonian YSEALI Profellows lainnya untuk nongkrong menikmati pemandangan Kota Boston dari seberang.

Jumat, 18 Februari 2022

YSEALI, Artists For Humanity, Cara Kreatif para Seniman Boston

Bekerja di Artists for Humanity beberapa bulan lalu menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi saya, karena bisa bekerja di perusahaan yang memiliki konsep kreatif yang menjadi impian saya selama ini. Artists for Humanity (AFH) adalah perusahaan kreatif yang berada di Boston, Massacussets, Amerika Serikat.

Kegiatan bersama pelajar yang mengambil program 3D

Perusahaan sosial ini bermula pada 1991 ketika Susan Rodgerson sebagai Founder dan Artistic Director bertemu dengan anak-anak muda di sekolah yang memiliki kemampuan di bidang seni terutama melukis. Tetapi mereka belum yakin dengan kemampuan mereka bisa menjadi salah satu karier di masa depan.

Bersama Susan Rodgerson, Founder AFH
Susan mengajak mereka, terutama Rob Gibbs dan Jason Talbot yang berumur 14 dan 15 tahun untuk membuat proyek bersama dan menghasilkan. Pada akhirnya mereka membentuk Artists for Humanity untuk mewadahi, memberi tempat dan kesempatan yang sama bagi anak-anak muda yang memiliki kondisi yang sama dengan mereka.

Hingga sekarang Artists for Humanity mengajak anak-anak muda bekerjasama dengan mentor untuk membuat karya-karya kreatif untuk menyelesaikan masalah yang ada di lingkungan dan juga memenuhi permintaan klien. Menggabung proses kreatif untuk perubahan sosial dan juga membantu perubahan hidup secara finansial untuk anak-anak muda.

25 Tahun sudah, hampir 3.000 anak muda yang sudah pernah berkerja dan menjangkau hingga 12.000 anak muda dalam kegiatan seni dan wirausaha. Semua berasal dari sekolah yang ada di Boston, dari berbagai jenis kulit, jenis kelamin dan berbagai bahasa.

Setiap Selasa hingga Kamis, anak-anak muda terutama anak sekolah, begitu sekolah usai mulai pukul tiga hingga pukul enam sore, mereka bisa magang di Artists for Humanity. Mereka membuat karya seni, seperti lukisan, kolase, 3D, desain grafis, video, dan foto.
Bersama mentor dan pelajar, berbagi cerita tentang Piyoh dan Indonesia
Kegiatan di Studio Melukis
Rob Gibbs, Mentor Painting
Nantinya hasil karya mereka akan dijual atau disewakan ke perusahaan-perusahaan yang membutuhkan karya seni, dan anak-anak muda yang karyanya dibeli atau disewa akan mendapatkan komisi. Selama magang mereka akan didampingi oleh mentor, belajar untuk menghasilkan karya-karya yang memiliki kualitas yang layak jual. Menariknya mentor di sini tidak memberikan instruksi atau perintah, tetapi mengajak anak-anak muda untuk diskusi dan berpikir secara ilmiah, karena yang digunakan adalah teknik STEM (Science, Technology, Engineering and Mathematics).

Secara proses, Artists for Humanity tidak hanya membantu finansial anak-anak muda di Boston, tetapi juga memotivasi mereka untuk menyelesaikan masalah pendidikan mereka. Banyak yang akhirnya termotivasi untuk menyelesaikan pendidikan mereka dan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi dengan motivasi yang positif.
Salah satu outlet AFH di Boston
Ada kurang lebih 40 pekerja tetap yang ada di Artist for Humanity, mulai dari direktur, mentor, finansial, manajemen dan development, mentor 3D, mentor melukis, mentor desain grafis, mentor fotografi dan mentor animasi. Semuanya terkumpul dengan kekuatan mimpi dari seorang Susan. Dia berkata, "lakukan hal yang positif untuk orang lain dan menyebarkannya, dan keajaiban akan datang."

Selain belajar, saya dapat kesempatan mengajarkan anak-anak muda yang sedang magang di Studio 3D untuk mengenal Aceh dan Indonesia melalui Kelas Kreatif yang biasa saya lakukan dengan teman-teman The Leader. Kami membuat Piyohtoys dengan bahan kokoru paper yang saya bawa dari Indonesia.
Mereka belajar bagaimana membuat karakter pribadi dengan bahan kertas dan mengenal Indonesia melalui karakter yang saya buat.Ternyata hasil karya yang kami buat membuat kami mengenal Indonesia dan Amerika lebih dekat, dan yang menariknya, Susan, Direktur Artists for Humanity dan Rich Mark, Direktur Marketing tertarik dengan konsepnya dan menunggu untuk penjualan produk tersebut ke jaringan internasional, wow! jadi tambah semangat ini.
Bersama Laurence, supervisor saya dan Susan, Founder AFH di acara Farewell party

Jumat, 11 Februari 2022

Hijrah Saputra: Saya Ini Cuma ‘Kompor’

BANDA ACEH – Siapa pun tahu Aceh yang berada di ujung Sumatera ini memiliki potensi alam luar biasa. Sayangnya, semua potensi itu belum tergarap karena semua pihak, khususnya kalangan anak muda, melirik titik fokus yang sama.

Terkait hal itu, pengusaha muda Aceh, Hijrah Saputra memberikan pendapatnya. Ia mengatakan, jika saja potensi itu digarap secara menyebar tentu akan berdampak jangka panjang yang menjanjikan.

“Sebenarnya Aceh punya banyak potensi yang belum tergali, cuma anak mudanya masih berebut 'kue' yang sama. Padahal masih banyak bagian lain potensi di Aceh yang bisa digarap dan punya kesempatan untuk berkembang lebih bagus ke depannya,” kata Hijrah kepada portalsatu.com melalui BBM, Jumat, 15 Januari 2016.

Ia mencontohkan, saat ini anak-anak muda Aceh mulai mengembangkan parfum aroma kopi, asam sunti pasta, emping berbagai rasa dan masih banyak lainnya.

“Jadi, sekarang saatnya melihat bagian lain yang belum tergarap itu. Jangan hanya melihat potensi yang sama. Tentunya msih banyak lagi lainnya yang belum terlihat,” kata owner Piyoh Design ini.

Kini pria yang akrab disapa Heiji itu lebih banyak mendengar, mendampingi dan menjembatani anak-anak muda Aceh yang memiliki ide-ide bagus yang bakal dihubungkan dengan pemerintahan sehingga ide yang mereka punya bisa dikembangkan.

Pasalnya, kata Heiji, banyak anak-anak muda Aceh yang memiliki ide dan sudah berkarya tetapi belum terhubung dengan pemerintahan. Dengan adanya Heiji yang kini juga menjabat sebagai staf ahli anggota Komisi X DPR RI hal tersebut menjadi mudah.

“Karena selama ini, itulah yang dibutuhkan anak-anak muda Aceh sekarang. Selain itu, juga mulai banyak anak-anak muda Aceh yang tertarik untuk bergerak di bidang social enterprise,” katanya.

Pada 2015 lalu Hijrah juga terpilih untuk mengikuti program Britis Council di Bandung. Ilmu yang dia peroleh dari sana pun kini mulai ditransfer kepada anak-anak muda Aceh.

Hasilnya pun mulai terlihat seperti I Love Songket Aceh yang digagas Azhar Ilyas di Aceh Besar, Colourful Kota Naga oleh Yelly Sustarina di Aceh Selatan, Sedekah Sandal oleh Al Khosim di Sabang dan masih banyak lainnya.

“Mereka penggeraknya dan saya membantu sebagai “kompor” saja sesuai dengan perannya seperti desain, promosi, dan membantu untuk pengembangan baik ide maupun link. Kita bikin Aceh lebih bermanfaat dengan cara yang menyenangkan,” ujar anak dari pasangan Drs. Suradji Junus dan Erwani Muthia ini.[] (ihn/*sar)

Sumber :  https://portalsatu.com/hijrah-saputra-saya-ini-cuma-kompor/

Jumat, 27 Oktober 2017

Introduce Aceh to America

With The Teens at 3D Studio AFH
Working in Artists for Humanity became an unforgettable experience for me, being able to work in a company that has a concept that has been my dream all along. Artists for Humanity is a creative company located in Boston, Massacussets, United States.
This social company started in 1991 when Susan Rodgerson as Founder and Artistic Director met with youngsters in schools who have skills in the arts, especially painting. But they are not yet convinced of their ability to become one of the future careers.
Susan invites them, especially Rob Gibbs and Jason Talbot who are 14 and 15 years old to make the project together and produce. In the end they form the Artists for Humanity to accommodate, give the same place and opportunity for young people who have the same conditions with them.
Until now Artists for Humanity invites young people to work with mentors to create creative works to solve problems that exist in the environment and also meet client demand. Combining creative processes for social change and also helping to change lives financially for young people.
25 Years already, nearly 3,000 young people have already worked and reach up to 12,000 young people in arts and entrepreneurship activities. All come from schools in Boston, from different skin types, sex and various languages.
Every Tuesday through Thursday, young people, especially school children, once school starts from three to six o'clock, they can intern at Artists for Humanity. They make artwork, such as painting, collage, 3D, graphic design, video, and photos.
Later their work will be sold or rented to companies in need of art, and young people whose work is bought or rent will earn commissions. During the apprenticeship they will be accompanied by mentors, learning to produce works that have a decent quality to sell. Interestingly, the mentor here does not give instructions or orders, but invites young people to discuss and think scientifically, because the technique used STEAM (Science, Technology, Engineering and Mathematics).
In the process, Artists for Humanity not only helps financially young people in Boston, but also motivates them to solve their educational problems. Many are ultimately motivated to complete their education and move on to a higher level with positive motivation.
There are approximately 40 full-time workers in Artist for Humanity, from director, mentor, finance, management and development, 3D mentor, painting mentor, graphic design mentor, photography mentor and animation mentor. Everything is gathered with the power of dreams of a Susan. She said, "do something positive for others and pass it on, and magic will come."
In addition to studying, I have the opportunity to teach young people who are apprenticing in 3D Studio to get to know Aceh and Indonesia through Creative Class that I usually do with The Leader friends. We make Piyohtoys with kokoru paper material that I brought from Indonesia.
Susan see the Piyohtoys
They learn how to create personal characters with paper materials and get to know Indonesia through the characters I create. And it turns out the work we make makes us know Indonesia and America closer. And interestingly, Susan, Director of Artists for Humanity and Rich Mark, Marketing Director is interested in the concept and is waiting for the sale of the product to the international network.
And this becomes our next homework, can we accept this challenge?
* Program Participants The Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) Professional Fellows Economic Empowerment Fall 2017 represents Indonesia.