Jumat, 18 Februari 2022

Plushindo Juarai Kompetisi Wirausaha Sosial di Jepang

Liputan6.com, Jakarta Anak-anak muda asal Indonesia berhasil menjuarai kompetisi wirausaha sosial yang digelar di Jepang. Presentasi tentang upaya pemberdayaan komunitas tuli di Indonesia membuat tiga anak muda asal Indonesia menjuarai Daigaku SDGs Action Award 2019 pada 20 Februari 2019 di Tokyo.


Dissa Syakina Ahdanisa, Hijrah Saputra, dan Muhammad Rizqi Ariffi dari Tim Fingertalk mempresentasikan program Plushindo. Ini adalah program pemberdayaan komunitas tuli atau tuna rungu Indonesia untuk membuat produk boneka yang membantu konservasi hewan langka Indonesia.

Dissa, Hijrah, Rizqi mempresentasikan program tersebut di hadapan juri setelah berhasil melewati tahap seleksi berkas dan wawancara via telepon. Siapa sangka, program Plushindo yang mereka presentasikan di depan 10 juri yang berasal dari The Asahi Shimbun, JAL, Sumitomo Metal Mining dan JICA bisa menang.

Program yang digagas tiga anak muda yang sedang kuliah di Negeri Sakura ini berhasil mengalahkan tim-tim lain dari universitas-universitas ternama Jepang. Termasuk mengalahkan tim yang berasal dari Tokyo University, Kindai University dan Kyushu University.

"Kami tidak menyangka bisa memenangkan lomba ini, kami hanya berharap bisa menyuarakan teman-teman Tuli terutama di Indonesia bisa setara dan mendapat kesempatan yang sama dengan teman-teman yang lain," tutur Hijrah dalam pesan teks dengan Liputan6.com ditulis Rabu (27/7/2019).

Hadiah 500 ribu yen
Berhasil menjadi juara 1, Tim Fingertalk diganjar dengan hadiah sebesar 500.000 yen atau setara dengan Rp63.900.000 (kurs Rp126,38/JPY per Selasa 26 Februari 2019).
Uang ini digunakan untuk pengembangan produk boneka satwa langka Indonesia. 

Daigaku SDGs Action Award adalah program yang diadakan oleh perusahaan media cetak terbesar di Jepang, Asahi Shimbun, untuk mahasiswa yang kuliah di Jepang dengan ide untuk mendukung program-program Sustainable Development Goals (SDGs).

Sebelum ada lomba ini, tiga anak muda ini sudah memiliki langkah nyata membantu memberdayakan orang tuli di Indonesia.

Bersama dengan tim Fingertalk lainnya, telah membuka empat buah cafe yang semua pekerjanya adalah teman-teman tuli dan penyandang disabilitas lainnya.

Tidak hanya berpusat di Tangerang Selatan, Fingertalk juga membantu teman-teman yang lain untuk menjalankan kafe di Poso, Sulawesi Tengah dan Kebumen, Jawa Tengah.

Sumber : https://www.liputan6.com/health/read/3904579/anak-muda-peduli-orang-tuli-juarai-kompetisi-wirausaha-sosial-di-jepang

Tim Fingertalk Indonesia Sabet Juara 1 Daigaku SDGs Action Award di Jepang

ACEHTREND.COM, Tokyo – Tim Fingertalk Indonesia yang terdiri atas Dissa Syakina Ahdanisa, Hijrah Saputra, dan Muhammad Rizqi Ariffi menyabet juara 1 Daigaku SDGs Action Award di Tokyo, Jepang. Tim ini terpilih menjadi salah satu dari 12 tim yang mempresentasikan idenya di depan dewan juri di Tokyo pada 20 Februari 2019.

Grand Prix Daigaku SDGs Action Awards 2019 Asahi Shimbun Japan
Dissa Syakina Ahdanisa melalui keterangan tertulis yang diterima aceHTrend mengatakan, Tim Fingertalk merupakan satu-satunya tim yang berasal dari Indonesia.
“Daigaku SDGs Action Award adalah program yang diadakan oleh perusahaan media cetak terbesar di Jepang, Asahi Shimbun, untuk mahasiswa-mahasiswa yang memiliki ide untuk membantu mendukung program-program Sustainable Development Goals (SDGs). 
SDGs adalah kesepakatan pembangunan baru yang mendorong perubahan-perubahan ke arah pembangunan berkelanjutan berdasarkan hak asasi manusia dan kesetaraan untuk mendorong pembangunan sosial, ekonomi, dan lingkungan hidup.
SDGs diberlakukan dengan prinsip-prinsip universal, integrasi, dan inklusif untuk meyakinkan bahwa tidak akan ada seorang pun yang terlewatkan.  Memiliki 17 tujuan, seperti pemberantasan kemiskinan, tanpa kelaparan, kehidupan yang sehat dan sejahtera, pendidikan yang berkualitas, kesetaraan gender, air bersih dan sanitasi yang layak, energi bersih dan terjangkau, pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, industri, inovasi dan infrastruktur, berkurangnya kesenjangan, kota dan permukiman yang berkelanjutan, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, aksi untuk perubahan iklim, konservasi ekosistem laut, konservasi ekosistem darat, perdamaian keadilan dan kelembagaan yang tangguh dan kemitraan untuk mencapai tujuan. 
“Tim Fingertalk terpilih dengan membawa pesan dari teman-teman tuli (tunarungi) yang berada di Indonesia. Selama ini Fingertalk fokus untuk pemberdayaan pemuda-pemuda yang memiliki kebutuhan khusus seperti tuli dan disabilitas lainnya,” kata Dissa, Kamis (21/2/2019).
Bersama dengan Tim Fingertalk telah membuka empat buah kafe yang semua pekerjanya merupakan tunarungu dan penyandang disabilitas lainnya. Tidak hanya kafe, Fingertalk juga membuka carwash dan workshop untuk membuat boneka satwa langka Indonesia.
Setelah presentasi di depan 10 juri, Tim Fingertalk berhasil terpilih sebagai pemenang utama, Fingertalk dipilih karena memiliki produk yang unik, tujuan yang jelas, dan membawa pesan inklusi dari dari Indonesia.
Atas pencapaian tersebut, Tim Fingertalk mendapat hadiah uang sebesar 500.000 yen, yang digunakan untuk pengembangan produk boneka satwa langka Indonesia. Hadiah diberikan langsung oleh Ichiro Ishida, Direktur Marketing Strategy The Asahi Shimbun Japan. 
“Tim Fingertalk berharap semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk berkarya dan menjalankan hidup,” kata Dissa.[]

Plushindo, Empowering Deaf People by Creative Design

I am Hijrah Saputra, first year student of master program in tourism and hospitality at Ritsumeikan Asia Pacific University (APU). I am also a graphic designer and from March 2018, I am taking the role of creative director for the “Plushindo” project. 

Plushindo is a social project of a social enterprise, Fingertalk, to empower the often marginalized and discriminated Deaf youths by training them to produce creative products, such as plush toys of endangered animals, that are used to spread awareness about animal conservation and inclusion. This project tackles issues such as unemployment, discrimination against people with disability and animal conservation in one creative solution, which made it very unique. 

Currently, Indonesia faces challenges of animals’ extinction due to habitat loss or illegal hunting. Many of the animals, such as Javan rhino, anoa and Komodo dragons, are endemic to Indonesia, and are forecasted to be extinct in the next decade. I believe that we must act now, and we must start from younger generation. Plushindo plushies are a way to spread awareness about the importance and urgency of animal conservation to the younger generation using attractive and fun mediums. 

Due to discrimination in the society, more than 74% of Deaf people in Indonesia are unemployed. Thus, through this project, my team and I are trying to break the stigma and create employment. Moreover, I learned to apply my skills and supported the Deaf to upgrade their skills, earn income and provide for their family.

Plushindo Crews
As the creative director, I was in charge of the designing and training process. I designed six different characters of endangered animals in Indonesia, which are orangutan, Sumatran elephants, Javan rhino, anoa, and komodo dragon. Once I completed the designs, I trained 20 Deaf youths to produce the plush toys or “plushies” based on those designs. Together, we made more than 600 plushies and distributed them to school children in six major islands in Indonesia.

The Characters


The Characters and their habitat

In addition to that, I also designed a small book to accompany the plushies, providing information about these endangered animals. I designed the books using language that are simple and easy to understand. I also used Indonesian Sign Language (BISINDO) in the book, so the children can understand more about the Deaf culture. This initiative connected Deaf youths and the children, and raised awareness since early age to hopefully eliminate discrimination against people with disability in the future.

After the production finished, I helped the team distributing the finished products through educational workshop. We visited schools and introduced the Deaf youths to the children, again, to raise awareness since young age. We used sign language to explain why all of us should love the animals. Furthermore, these plushies and books are also given as the token of appreciation to the conservation sites of the endangered animals. 

Plushindo goes to Riau, Pekanbaru
Plushindo team teach Indonesian Sign Language (BISINDO) to the school children
Plushindo goes to Pamulang, Banten
Plushindo goes to Balikpapan, East Kalimantan


Plushindo goes to Poso, Central Sulawesi



Plushindo and WWF Indonesia
Through this program, we have realized that the training can be scaled up as employment opportunities for Deaf youths, which led me to participate in Hult Prize competition. In December 2018, my team and I brought this idea to enter the competition of Hult Prize, the biggest social entrepreneurship competition in the world. We won APU campus round and four months later, we became the only team that represented APU in Tokyo regional summit. Our goal was to win the USD 1 million prize to train more Deaf youths and create 10,000 jobs. We were chosen one of the six finalists and received valuable feedback from the judges to scale up and create more sustainable impact.





Plushindo team and New Zealand Embassador for Indonesia
Plushindo Team with Mr. Deguchi, President of Ritsumeikan APU
Last March 2019, Plushindo also won the Asahi Shinbun SDG Action! Awards 2019, and became the first ever representation from APU to win the competition. Our team received the grand prix prize of JPY 500,000 and will utilize the fund to train more Deaf people in rural areas of Indonesia to give them more opportunities and financial independence.
Plushindo won Grand Prix SDGs Daigaku Action Awards Asahi Shimbun Japan 2019
Plushindo Team with Chief of Asahi Shimbun Japan
Plushindo team at Hult Prize Final Round in Regional Round Tokyo, Japan
Through this project, I can see how our skill can create bigger and more sustainable impact.

Kamis, 17 Februari 2022

Takasakiyama, Kerajaan Kera Jepang di Oita

Buat kamu yang tertarik dengan monyet Jepang, hewan yang lucu tapi kadang menjengkelkan ini, Takasakiyama bisa jadi pilihan melihat mereka langsung di habitat aslinya. Berada di ketinggian 628 di atas permukaan laut (dpl) membuat kita harus jalan menanjak atau mendaki menuju ke sana. Tapi bagi yang tidak sanggup atau ingin menikmati sensasi yang berbeda, bisa menggunakan monorail dengan harga ¥110 perorang
Dibuka sejak Tahun 1952, tempat ini menjadi kediaman 1.500 monyet jenis monyet Macaque atau monyet ekor panjang, tidak heran ada yang mengatakan kalau tempat ini merupakan kerajaan monyet dan merupakan salah satu tempat yang memiliki pasukan monyet terbanyak di dunia! Karena hampir setiap kelompoknya berkisar 700 hingga 800 ekor. Setiap group dibagi dua shift yaitu pagi dan sore.

Shift yang pertama akan turun untuk mengambil makanan yang telah disiapkan oleh petugas, begitu selanjutnya akan dilanjutkan dengan shift sore, sangat pengertian sekali monyet – monyet Jepang ini, hehe.

Tempat ini dibuka pertama sekali dengan tujuan selain menjadi tempat wisata adalah untuk menghindari konflik antara monyet dan para petani di sekitar gunung. Jumlah monyet yang semakin meningkat membuat mereka harus melakukan apa saja untuk memenuhi kebutuhan mereka termasuk mencuri di kebun warga. Akhirnya diputuskan untuk dikumpulkan dan diberi makan di satu lokasi.

Ketika saya ke sana, bertepatan sekali dengan jadwal mereka diberi makan. Seturunnya kami dari monorail, kami melihat langsung ratusan monyet turun berebutan makanan, anak saya sangat senang sekali melihatnya, ya termasuk saya.

Akhirnya bisa melihat langsung monyet-monyet di sana, karena selama ini bintang iklan yang mempromosikan pariwisata perfektur Oita adalah monyet-monyet ini, yang dibuat versi drama percintaan, duh!.
Menariknya selesai mereka berebutan makanan, mereka berkumpul satu sama lain. Saya melihat ada papan informasi yang menuliskan berapa banyak total monyet yang ada di sana, dan kategori mereka, jumlahnya sangat detail seperti layaknya pendataan sensus penduduk, salut.

Walaupun monyet-monyet ini terlihat jinak dan diawasi oleh pawangnya, kita juga tidak boleh sembarangan memberi makan, kontak mata langsung atau pun membawa pulang.

Filosofi Sakura

Musim semi jadi musim yang paling ditunggu-tunggu di Jepang, musim di mana Bunga Sakura bermekaran. Setiap tahunnya pemerintah akan membuat poster yang berisikan jadwal mekarnya si bunga cantik ini, karena setiap daerah memiliki masa mekar yang berbeda-beda.

Bersama salah satu keluarga yang menikmati Festival Sakura di Saga

Tradisi menikmati Sakura pada siang hari bernama Hanami, sedangkan malam hari diberi nama Yozukara. Biasanya masyarakat Jepang berkumpul menikmati makanan yang dibawa dari rumah bersama orang-orang yang mereka sayangi.

Bagi masyarakat Jepang memiliki makna yang sangat mendalam bagi kehidupannya mereka, sehingga menjadi filosofi hidup. Bunga Sakura yang mekar hanya mampu bertahan satu hingga dua minggu ini melambangkan kehidupan manusia yang hanya sementara dan tidak kekal, hal ini yang membuat mereka semangat mengisi kehidupan dengan kebaikan, layaknya Bunga Sakura sebelum gugur terus menampilkan keindahannya.

Selain itu Bunga Sakura menjadi simbol kelahiran kembali atau pembaharuan, setiap muncul Bunga Sakura menunjukan semangat baru memulai hidup. Momen mekar bunga indah ini juga bertepatan dengan permulaan ajaran baru sekolah dan awal pembukuan di Jepang, tak heran kalau kita banyak menemukan Bunga Sakura di kawasan perkantoran dan sekolah.

Bersama Yurukyara Kota Saga

Saya mendapat kesempatan menikmati Festival Bunga Sakura di Kota Saga Fukuoka. Kegiatan ini diadakan oleh salah satu SMA di Tomeikan, mereka mengundang mahasiswa dari negara lain untuk bisa menikmati Festival Sakura bersama sekaligus saling memperkenalkan budaya masing-masing.

Sebelum acara, kami diajak berkeliling oleh pihak sekolah untuk melihat bunga sakura yang mereka miliki. Saya dan teman-teman terkagum-kagum, sekolah mereka memiliki banyak sekali Bunga Sakura dan semua mekar bersamaan, tak heran kalau mereka ingin menunjukannya.

Acara yang diadakan meriah, semua orang mulai dari anak kecil hingga orang tua diajak berkumpul menikmati keindahan Bunga Sakura dengan banyak kegiatan menarik seperti bazar makanan, pertunjukan seni, drama dan tarian, semuanya diselenggarakan oleh pihak sekolah. 

Selesai acara, saya melihat banyak kebahagiaan terpancar dari wajah mereka baik dari pengunjung yang datang maupun pihak sekolah penyelenggara. Wajar kalau Festival Sakura menjadi simbol semangat baru untuk anak-anak sekolah dan semangat masyarakat Jepang.

Belajar Bahasa Jepang dengan Menyenangkan di Ikuzo Indonesia

 Salah satu tantangan untuk belajar di Jepang adalah Bahasa Jepang, karena tidak banyak orang jepang yang bisa berbahasa Inggris. Ya walaupun sebenarnya di Beppu, banyak orang jepang yang bisa berbahasa inggris. Tapi untuk menjiwai dan bisa merasakan suasana yang jepang sekali dan mengenal lebih detail tentang Jepang ada baiknya kita juga mempelajarinya.


Alhamdulillah sebelum berangkat ke Beppu, saya mendapat kesempatan untuk belajar di Ikuzo Indonesia. Ikuzo berasal dari Bahasa Jepang yang berarti, "Let's go!". Saya mendapatkan penawaran dari Ci Vera, pemilik dan pengagas dari Ikuzo Indonesia, beliau juga lulusan dari Ritsumeikan Asia Pacific University. Beliau sangat fokus dengan dunia Pendidikan, karena menurut beliau anak-anak di Indonesia mempunyai kemampuan yang luar biasa, jadi beliau memutuskan untuk bergerak di bidang yang disukai dan berkontribusi, hal ini terlihat banyaknya anak-anak yang belajar di sana memperoleh prestasi di luar.

Suasana Ikuzo, bagi yang senang dengan Jepang, ini menjadi ruangan yang menyenangkan
Belajar di Ikuzo Indonesia sangat menyenangkan, karena kita bisa belajar langsung dengan native speaker dari Jepang dan kita tidak hanya mempelajari grammar tetapi juga berdiskusi apa saja tentang Jepang, mulai dari kebudayaan, etos kerja dan masih banyak lagi. 

Bersama Ci Vera pemilik Ikuzo, istri saya dan Fukuda Sensei
Selain Bahasa Jepang, Ikuzo Indonesia juga mempunyai kelas membuat manga, komik khas jepang, kelas menjahit dan banyak sekali program pertukaran ke Jepang, karena Ikuzo memiliki banyak jaringan dengan pihak jepang. Selain itu ada banyak kegiatan menarik seperti festival, study tour dan workshop.

Jadi buat kamu yang ingin belajar Bahasa Jepang dan semua yang terkait dengan Jepang, langsung saja daftar atau mau berkunjung langsung ke Ikuzo Indonesia ya!.

Rabu, 16 Februari 2022

Liputan Buku Jejak Dari Kota Neraka di Oita Godo Shinbun

  【別府】別府市の立命館アジア太平洋大(APU)大学院に通うヒジラ・サプトラさん(35)が、別府観光の魅力や暮らしをPRする本「地獄の街での足跡」を母国インドネシアで出版した。新型コロナウイルスの影響で来日できなかった半年間に執筆。恵まれない子どもたちの支援に収益を充てた。

Hijrah Saputra dan Dissa Syakina 

春休みに入った2月中旬に首都ジャカルタに戻ったが、新型コロナで4月になっても来日できなくなった。感染状況が深刻で外出も一切できなくなり、オンライン授業の日々が続く中で「本を作ろう」と思い立ったという。

 2018年秋に入学して以来、たびたび母国のネットメディア向けに日常を発信していた。地獄めぐりなどの主要観光地の様子、年末の鏡餅作りなど、会員制交流サイト(SNS)に投稿した過去の写真も含めて1カ月ほどで一冊の本に仕上げた。
 日本の地名で知られているのは東京や京都などの主要都市が中心。多くの人が別府の地名を知らず、別府の話題は新鮮に感じられたようだ。裸で入る日本式の温泉文化や、地獄めぐり、地獄蒸しのように自然を観光資源に生かす点に反響があったという。
 ヒジラさんは「悪いイメージの『地獄』のタイトルと観光という単語が本を読むことで結びつき、別府の地獄に好印象を持ってくれた。新型コロナが収束したら別府に遊びに来たり、APUに入学する人が増えてほしい」と期待する。
 妻のディサ・アダニサさん(30)=APU大学院生=も同じ時期に「新しい冒険」と題した本を出した。中央アメリカ、ニカラグアで13年に実施した英語教育ボランティアの体験を、当時の日記で振り返った。ディサさんは「母国を担う次世代の役に立ちたい」と話した。
 本はいずれもインドネシア語。ヒジラさんは製本した100冊、ディサさんは200冊を完売。追加販売を検討するという。

<メモ>
 ヒジラさん、ディサさん夫婦は春から約半年間、インドネシアでオンライン授業を受けて過ごした。ジャカルタを8月末に出国、東京都で2週間ほど滞在し、9月11日に別府に到着した。

※この記事は、9月16日 大分合同新聞 12ページに掲載されています。