Jumat, 11 Februari 2022

Hijrah Saputra, Anak Muda Aceh yang Jadi Staf Ahli DPR RI

Banda Aceh (Kanal Aceh) – Sejak akhir 2015, pengusaha muda asal Aceh, Hijrah Saputra jadi staf ahli Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) komisi X bidang bidang pendidikan, kepemudaan, olahraga, pariwisata, dan ekonomi kreatif.

“Iya, saya baru jadi staf ahli di DPR RI komisi X,” katanya saat dikonfirmasi Kanal Aceh, Sabtu (16/1).

Putra asal Sabang ini mengaku diajak oleh Muslim SHI., MM. yang merupakan anggota DPR RI komisi X. Muslim merupakan anggota legislatif dari Dapil 2 Aceh yang meliputi daerah Kabupaten Bireuen, Kabupaten Aceh Tengah, Kabupaten Bener Meriah, Kabupaten Aceh Utara, Kota Lhokseumawe, Kabupaten Aceh Timur, Kota Langsa, dan Kabupaten Aceh Tamiang.

“Saya diajak sama bapak Muslim anggota DPR RI komisi X sejak akhir 2015 lalu,” kata pria yang menjadi pemilik toko cinderamata Piyoh ini.

Lanjut Hijrah, ia juga mau menerima tawaran itu sebab, Muslim mempunyai pemikiran yang idealis, termasuk untuk membantu anak-anak muda Aceh berkembang.

Kepada Kanal Aceh, Hijrah menjelaskan bahwa awalnya ia bertemu Muslim dalam acara program Sail Motorail 2012.

“Beliau minta bantuan untuk menjembatani dengan anak-anak muda kreatif di Aceh, seperti The Leader, Turun Tangan Aceh, I Love Songket Aceh, Colourful Kota Naga, Gam Inong Blogger, himpunan mahasiswa dan komunitas lainnya,” imbuhnya.

Dengan menjadi staf ahli DPR RI, pria lulusan Teknis Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Brawijaya berharap bisa bersinergi dengan semua anak-anak muda Aceh agar generasi muda bisa beraksi. (Aidil Saputra)

Sumber : https://www.kanalaceh.com/2016/01/16/hijrah-saputra-pengusaha-muda-aceh-yang-jadi-staf-ahli-dpr-ri/

Hijrah Saputra: Saya Ini Cuma ‘Kompor’

BANDA ACEH – Siapa pun tahu Aceh yang berada di ujung Sumatera ini memiliki potensi alam luar biasa. Sayangnya, semua potensi itu belum tergarap karena semua pihak, khususnya kalangan anak muda, melirik titik fokus yang sama.

Terkait hal itu, pengusaha muda Aceh, Hijrah Saputra memberikan pendapatnya. Ia mengatakan, jika saja potensi itu digarap secara menyebar tentu akan berdampak jangka panjang yang menjanjikan.

“Sebenarnya Aceh punya banyak potensi yang belum tergali, cuma anak mudanya masih berebut 'kue' yang sama. Padahal masih banyak bagian lain potensi di Aceh yang bisa digarap dan punya kesempatan untuk berkembang lebih bagus ke depannya,” kata Hijrah kepada portalsatu.com melalui BBM, Jumat, 15 Januari 2016.

Ia mencontohkan, saat ini anak-anak muda Aceh mulai mengembangkan parfum aroma kopi, asam sunti pasta, emping berbagai rasa dan masih banyak lainnya.

“Jadi, sekarang saatnya melihat bagian lain yang belum tergarap itu. Jangan hanya melihat potensi yang sama. Tentunya msih banyak lagi lainnya yang belum terlihat,” kata owner Piyoh Design ini.

Kini pria yang akrab disapa Heiji itu lebih banyak mendengar, mendampingi dan menjembatani anak-anak muda Aceh yang memiliki ide-ide bagus yang bakal dihubungkan dengan pemerintahan sehingga ide yang mereka punya bisa dikembangkan.

Pasalnya, kata Heiji, banyak anak-anak muda Aceh yang memiliki ide dan sudah berkarya tetapi belum terhubung dengan pemerintahan. Dengan adanya Heiji yang kini juga menjabat sebagai staf ahli anggota Komisi X DPR RI hal tersebut menjadi mudah.

“Karena selama ini, itulah yang dibutuhkan anak-anak muda Aceh sekarang. Selain itu, juga mulai banyak anak-anak muda Aceh yang tertarik untuk bergerak di bidang social enterprise,” katanya.

Pada 2015 lalu Hijrah juga terpilih untuk mengikuti program Britis Council di Bandung. Ilmu yang dia peroleh dari sana pun kini mulai ditransfer kepada anak-anak muda Aceh.

Hasilnya pun mulai terlihat seperti I Love Songket Aceh yang digagas Azhar Ilyas di Aceh Besar, Colourful Kota Naga oleh Yelly Sustarina di Aceh Selatan, Sedekah Sandal oleh Al Khosim di Sabang dan masih banyak lainnya.

“Mereka penggeraknya dan saya membantu sebagai “kompor” saja sesuai dengan perannya seperti desain, promosi, dan membantu untuk pengembangan baik ide maupun link. Kita bikin Aceh lebih bermanfaat dengan cara yang menyenangkan,” ujar anak dari pasangan Drs. Suradji Junus dan Erwani Muthia ini.[] (ihn/*sar)

Sumber :  https://portalsatu.com/hijrah-saputra-saya-ini-cuma-kompor/

Hijrah Saputra, Pemuda Kreatif yang Ingin Berbagi Aceh Di mana Saja

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Buat kamu penyuka gaya kasual, pasti sudah akrab dengan yang namanya kaos. Ya, fashion item sepanjang masa ini, memang cocok dibawa dalam keseharian. 

Bahannya yang nyaman dan modelnya yang sederhana, membuat para pecintanya sulit meninggalkannya. Menegaskan kesan muda bagi si pemakai. Timeless. Kaos memang tak ada matinya.

Daya tarik sepotong kaos juga menarik minat Hijrah Saputra, untuk menumpahkan kreativitasnya. Selain dilirik warga lokal, kaos dengan brand 'piyoh' ini juga banyak diincar wisatawan. 

Tak heran, selain nyaman dipakai kaos desain Hijrah juga unik dengan mengusung berbagai tema dan karakter.

"Waktu balik ke Aceh saya dianggap orang aneh, bukan orang Aceh. Jadi saya pikir gimana caranya menganehkan orang Aceh," ujar Alumnus Jurusan Tata Kota Universitas Brawijaya Malang ini, saat dijumpai di distronya kawasan  Ulee Kareng, Banda Aceh itu, Selasa (2/1).

Berdiri sejak 2009, saat ini Piyoh mempunyai tiga outlet yang tersebar di Kota Banda Aceh dan Sabang. Mengandalkan kekhasan desain yang diaplikasikan pada kaos dan lainnya, Piyoh menawarkan produk berselera muda.

Penggunaan bahan baku berkualitas baik setara distro juga menjadi nilai tambah. "Kita membidik kalangan menengah ke atas sebagai segmen pasar. Kaos ini sekaligus sebagai branding wisata Aceh yang intinya bisa berbagi Aceh di mana aja," papar alumnus YSEALI 2017 ini.

Dibandrol mulai Rp 90 ribuan, kaos 'Piyoh' tersedia untuk unisex dengan pilihan lengan panjang, pendek, polo, hingga potongan syar'i. Menawarkan tema berbeda dalam setiap bulannya.


Di tangan Hijrah, kaos ini berceloteh tentang banyak hal, seperti 'Badboy go to hell, goodboy go to Sabang' hingga memuat konten lokal seperti 'bek jampok' dan 'eh malam'.

Selain kaos, di sini kamu juga bisa menemukan rupa-rupa gantungan kunci, magnet, stiker, dompet etnik, hingga parfum yang menebarkan aroma khas Aceh. Dibanderol mulai Rp 5 ribu saja per item. (rul)

Artikel ini telah tayang di SerambiNews.com dengan judul Hijrah Saputra, Pemuda Kreatif yang Ingin Berbagi Aceh Dimana Saja, https://aceh.tribunnews.com/2018/01/06/hijrah-saputra-pemuda-kreatif-yang-ingin-berbagi-aceh-dimana-saja.

Mottainai (勿体無い), Cara Orang Jepang Menghormati Barang


Kata mottainai (
勿体無い) ini berasal dari gabungan kata mottai yang berarti “sesuatu yang penting” dan nai yang berarti “kekurangan”. Namun jika digabungkan, mottainai berarti sebuah kata yang digunakan untuk mengutarakan kerendahan diri dan juga rasa syukur karena menerima sesuatu yang menurut mereka tidak pantas menerimanya.

Kata ini menunjukkan perasaan syukur yang dikombinasikan dengan rasa malu karena menerima sesuatu atau bantuan dari atasan yang jauh lebih besar dari yang seharusnya.

Sejarah mottainai

Sejarah mottainai muncul di dalam kehidupan rakyat Jepang sejak Zaman Edo, pada Tahun 1603 – 1868. Di zaman tersebut Edo adalah kota yang ramai seperti Tokyo sekarang. Saat itu masyarakat Edo, adalah masyarakat yang ramah lingkungan seperti konsumsi yang mencolok dan konservasi sumber daya di mana barang-barang digunakan, digunakan kembali, dan digunakan kembali dengan rasa terima kasih.

Jika ada seseorang yang mempunyai kimono (pakaian khas jepang), ia akan menggunakannya hingga 10 atau 20 tahun. Bila kimono itu sobek, ia akan menambalnya terus. Saat sudah tidak dapat digunakan, kimono tersebut dijadikan kain lap. Jika sudah tidak bisa dijadikan kain lap, maka akan dibuat bahan bakar untuk memasak. Abu yang tersisa dari kimono tersebut tidak dibuang, melainkan untuk membersihkan peralatan makan. Jadi semuanya bisa dimanfaatkan dengan maksimal.

Masyarakat Jepang juga percaya bahwa setiap benda memiliki roh. Dari kepercayaan itulah muncul istilah dan kisah yōkai (hantu) dan Tsukumogami (hantu peralatan rumah tangga). Pada saat satu benda menginjak umur seratus tahun, benda itu akan berubah menjadi Tsukumogami.

Oleh karena itu, rakyat Jepang pada Zaman Edo memegang teguh prinsip 4R.

  • Reduce (mengurangi),
  • Reuse (memakai ulang),
  • Recycle (mendaur ulang),
  • Respect (menghormati).

Masyarakat Jepang yang tinggal di Prefektur Iwate membuat teknik Nanbu sakiori, yaitu menjahit kain yang tidak terpakai menjadi pakaian baru atau menjadi kerajinan.

Sakiori adalah kain tenunan yang dibuat dengan menggunakan kembali Furununo (kain lama) yang telah dipotong menjadi potongan tali kecil yang kemudian ditenun.

Pada zaman Edo, di Perfektur Aomori, jepang bagian utara, tidak dapat memproduksi kapas karena cuaca yang dingin. Kapas sangat berharga, jadi, kimono tua didaur ulang lagi dan lagi dan akhirnya disobek menjadi tali dan ditenun dan direproduksi sebagai kain baru yang tebal dan hangat. Hasil dari tenunan ini dijadikan kain tradisional Aomori.

Seorang komikus Jepang, Shinju Mariko menciptakan cerita untuk mencoba dan mengajari putranya sendiri tentang arti dari mottainai dan pentingnya menjaga sesuatu. Konsepnya menarik perhatian sebuah perusahaan penerbitan, dan akhirnya diterbitkan sebagai buku bergambar pada tahun 2004.

Karakter Mottainai Baasan (Nenek Mottainai), diceritakan sangat membenci sesuatu yang mubazir, sosok nenek ditampilkan sekilas tampak menakutkan tetapi sebenarnya baik dan penuh cinta. membuat dia menjadi populer di kalangan anak-anak.

Orang jepang meyakini ungkapan "sebutir nasi sejuta keringat". Biasanya digunakan orang tua untuk mendidik anak - anak agar menghabiskan makanan. Bukan dengan memaksa dan menakut-nakuti, tetapi orang tua di Jepang mengajarkan agar anak-anak menyadari betul nasi yang ada di atas piring makan mereka merupakan usaha keras dari banyak orang.

Mariko Shinju menjabarkan konsep itu dalam seri Nenek Mottainai, melalui buku bergambar dan melalui karakter seorang nenek yang bijak.

Konsep Mottainai mengajarkan kita untuk berhati-hati dan bertanggung jawab terhadap semua sumber daya dan menggunakan sumber daya yang terbatas seefektif mungkin.

 “The wasted opportunity of objects that have yet to reach their full potential.”

  • Membuang sepasang sandal geta yang sangat bagus karena talinya putus? Mottainai!
  • Membuang kimono karena anak Anda sudah besar? Mottainai!
  • Menyembunyikan cangkir teh favorit Anda karena ada beberapa retakan? Mottainai!

Melalui rasa menghormati ini, anak-anak diajak untuk menghargai peran dari sebuah barang dan berpikir ulang untuk membuang atau menyia-nyiakan fungsinya. Sebagai contoh, di Jepang, kita akan menemukan Senbei (kudapan yang terbuat dari beras) yang dibungkus menggunakan kertas tradisional yang disebut washi. Washi ini dapat digunakan kembali sebagai bungkus hadiah, sampul buku dan masih banyak produk kreatif lainnya, jadi barang tersebut bisa digunakan secara efektif.

Orang Jepang selalu mengatakan 'otsukaresama-deshita!' kepada setiap barang – barang yang mereka gunakan sebagai menunjukkan 'terima kasih atas kerja kerasnya'.

Indah ya?

Jumat, 27 Oktober 2017

Introduce Aceh to America

With The Teens at 3D Studio AFH
Working in Artists for Humanity became an unforgettable experience for me, being able to work in a company that has a concept that has been my dream all along. Artists for Humanity is a creative company located in Boston, Massacussets, United States.
This social company started in 1991 when Susan Rodgerson as Founder and Artistic Director met with youngsters in schools who have skills in the arts, especially painting. But they are not yet convinced of their ability to become one of the future careers.
Susan invites them, especially Rob Gibbs and Jason Talbot who are 14 and 15 years old to make the project together and produce. In the end they form the Artists for Humanity to accommodate, give the same place and opportunity for young people who have the same conditions with them.
Until now Artists for Humanity invites young people to work with mentors to create creative works to solve problems that exist in the environment and also meet client demand. Combining creative processes for social change and also helping to change lives financially for young people.
25 Years already, nearly 3,000 young people have already worked and reach up to 12,000 young people in arts and entrepreneurship activities. All come from schools in Boston, from different skin types, sex and various languages.
Every Tuesday through Thursday, young people, especially school children, once school starts from three to six o'clock, they can intern at Artists for Humanity. They make artwork, such as painting, collage, 3D, graphic design, video, and photos.
Later their work will be sold or rented to companies in need of art, and young people whose work is bought or rent will earn commissions. During the apprenticeship they will be accompanied by mentors, learning to produce works that have a decent quality to sell. Interestingly, the mentor here does not give instructions or orders, but invites young people to discuss and think scientifically, because the technique used STEAM (Science, Technology, Engineering and Mathematics).
In the process, Artists for Humanity not only helps financially young people in Boston, but also motivates them to solve their educational problems. Many are ultimately motivated to complete their education and move on to a higher level with positive motivation.
There are approximately 40 full-time workers in Artist for Humanity, from director, mentor, finance, management and development, 3D mentor, painting mentor, graphic design mentor, photography mentor and animation mentor. Everything is gathered with the power of dreams of a Susan. She said, "do something positive for others and pass it on, and magic will come."
In addition to studying, I have the opportunity to teach young people who are apprenticing in 3D Studio to get to know Aceh and Indonesia through Creative Class that I usually do with The Leader friends. We make Piyohtoys with kokoru paper material that I brought from Indonesia.
Susan see the Piyohtoys
They learn how to create personal characters with paper materials and get to know Indonesia through the characters I create. And it turns out the work we make makes us know Indonesia and America closer. And interestingly, Susan, Director of Artists for Humanity and Rich Mark, Marketing Director is interested in the concept and is waiting for the sale of the product to the international network.
And this becomes our next homework, can we accept this challenge?
* Program Participants The Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) Professional Fellows Economic Empowerment Fall 2017 represents Indonesia.