Sabtu, 19 Februari 2022

YSEALI, Menikmati Kehidupan Abad 17 New England

Mengunjungi Plymouth Plantation, salah satu desa wisata yang ada di Boston menjadi kenangan tersendiri. Ada sebuah desa yang terbentuk sejak abad ke-17, penduduknya berasal dari Inggris dan menetap di Amerika. Pada mulanya mereka pindah dari Inggris untuk mencari tempat yang menetap yang baru, karena peristiwa ini juga, Boston sering disebut sebagai Inggris yang baru atau yang dikenal dengan New England.

Plymouth Plantation

Di Plymouth Plantation juga kita bisa melihat dan merasakan langsung bagaimana kehidupan masyarakat di sana saat itu. Cara mereka berpakaian dan beraktivitas persis seperti saat itu, dan menariknya mereka akan menceritakan peran yang mereka mainkan dan apa cerita di baliknya.

Bersama tukang kayu Plymouth
Misalnya seorang petani, apa yang dia lakukan, tinggal di rumah yang mana, tanaman apa saja yang mereka tanam, hingga permainan apa saja yang mereka main. Nantinya pengunjung akan melihat setiap rumah dan isinya, serta kegiatan apa saja yang dilakukan di rumah. Bahkan kegiatan mengumpulkan orang-orang untuk rapat warga dengan genderang pun ditampilkan, jadi kita benar-benar seperti berada di zaman itu.

Selain itu kita juga bisa bertemu dengan penduduk asli Wampanoag yang tinggal di rumah mereka yang terbuat dari daun atau kulit kayu, cara mereka memasak, membuat perahu kayu dan cerita menarik lainnya. Menariknya yang berperan sebagai penduduk di sana adalah ilmuwan ataupun lulusan perguruan tinggi yang menggeluti sejarah atau sosiologi. Jadi mereka bisa sekaligus mempraktekkan ilmu yang mereka punya dan juga bisa menyelesaikan riset mereka. Dan pekerjaan yang mereka lakukan di sana sebagai volunter.
Selain bisa menikmati kampung sejarah, kita bisa melihat aktivitas menarik lainnya di pondok souvenir, seperti membuat gerabah, membuat roti, dan membuat lilin dari sarang lebah hingga menganyam.
Penduduk Asli Wampanoag yang diperankan oleh mahasiswa

Plymouth Plantation sendiri terletak di Plymouth yang memakan waktu sekitar satu jam 30 menit perjalanan dari Boston dengan menggunakan bus. Buka setiap hari mulai dari pukul 09:00 hingga 17:00 waktu setempat. Harga tiket mulai $28 hingga $36.

Menikmati Pie ala abad 17
Sebenarnya konsep ini bisa dikembangkan dan akan menjadi hal yang menarik di Aceh, apalagi Aceh memiliki banyak sekali cerita sejarah yang akan menarik banyak wisatawan dan akan menjadi media pembelajaran untuk masyarakat agar mencintai sejarah dengan cara yang benar dan menarik.

*Peserta Program  The Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) Profesional Fellows Economic Empowerment Fall 2017 mewakili Indonesia.

YSEALI, Tempat-tempat yang Wajib Kamu Kunjungi di Universitas Harvard

Mengunjungi Universitas Harvard menjadi salah satu agenda yang tidak boleh dilewatkan kalau kita datang ke Massachussetts apalagi kalau tinggaldi Cambridge dan sekitarnya. Terkenal sebagai salah satu kampus terbaik di Amerika Serikat bahkan di dunia. Siapa yang tidak mengenal Universitas Harvard, perguruan tinggi ini telah mencetak sarjana yang berkelas.

Terminal Bus Harvard
Harvard hampir selalu bertengger di puncak peringkat universitas ternama di dunia dan termasuk kampus yang tertua di Amerika. Lokasinya sendiri sebenarnya berada di Cambridge, tetapi karena berdekatan dengan pusat Kota Boston, jadi lebih sering diketahui sebagai salah satu kampus di Boston.

Kampus ini dirintis pada tahun 1636 oleh sembilan mahasiswa dan seorang dosen bernama Jhon Harvard of Charleston. Seorang pastor yang menyumbangkan perpustakaan dan tanahnya. Awalnya bernama College at Newtowne, namun pada tahun 1638 diganti menjadi Harvard College dan pada 1780 diubah menjadi Harvard University.
Patung John Harvard

Sekarang sudah kurang lebih 21.225 pekerja dan luas wilayahnya mencapai 85 ha, semuanya banyak didapat dari sumbangan dari mahasiswa yang dulunya pernah belajar atau hibah dari keluarganya. Hal ini menunjukan betapa mereka mendukung penuh perkembangan pendidikan di sini.

Kampus ini pun didukung dengan peralatan praktek perkuliahan yang canggih dan modern, mahasiswanya pun diberikan kebebasan untuk melakukan penelitian. Harvard juga menerima mahasiswa berasal dari keluarga tidak mampu dan menggratiskan biaya kuliah. Harvard terkenal dengan warna merah bata atau Crimson dengan mottonya Veritas, berasal dari Bahasa Latin yang berarti kebenaran. Karena penuh dengan bangunan tua dan sejarah yang menarik, selalu ada penawaran paket wisata untuk berkeliling kampus, kita cukup membayar $12 untuk mengikuti paketnya. Jadwalnya sendiri setiap setengah jam, mulai dari pukul 10:00 hingga 16:30 waktu setempat.

Tour Harvard dimulai dari sini
Universitas Harvard memilki sembilan fakultas ternama, yaitu Harvard Faculty of Arts and Sciences, Harvard Medical School, Harvard Divinity School, Harvard Law School, Harvard Bussiness School, Harvard Graduate School of Design, Harvard Graduate School of Education, Harvard School of Public Health dan Kennedy School of Government. Dan semua fakultas ini didirikan sejak abad ke-19.

Saya tinggal di Cambridge, jaraknya hanya 15-20 menit berjalan kaki menuju Harvard University dan hampir setiap hari melewatinya, karena termasuk dalam rute perjalanan ke kantor. Tapi kali ini saya dapat kesempatan berharga berkeliling Harvard ditemani oleh mahasiswa Harvard yang berasal dari Indonesia. Menariknya karena saya bisa masuk ke beberapa tempat yang hanya khusus bisa dimasuki oleh mahasiswa dan saya mendapat tour lengkap dengan gratis, hehe.

Ada beberapa tempat menarik yang saya kunjungi di Universitas Harvard melalui paket tour di Harvard yaitu:

1. Patung John Harvard
Patung John Harvard menjadi lokasi favorit untuk foto, dan ada mitos yang beredar jika bisa foto dan memegang ujung sepatunya yang berwarna emas itu, maka anak kita akan bisa kuliah di sana.

2. Gerbang Johnston
Harvard memiliki 26 gerbang besar dan kecil yang mengelilinginya. Gerbang Johnston ini berada di tengah, menurut mitos hanya boleh dilewati dua kali, jika lebih dari itu maka akan membuat mahasiswa di DO. Namanya sendiri diambil dari nama seorang mahasiswa Samuel Johnston yang menyumbangkan 10.000 dolar untuk pembangunan gerbang tersebut.

3. Perpustakaan Harry Elkin Widener
Perpustakaan Widener, perpustakaan ini termasuk nomor dua terbesar di dunia setelah perpustakaan Kongres AS. Nama perpustakaan ini diambil dari nama mahasiswa yang lulus dari Harvard dan menyumbang dananya untuk pembangunan perpustakaan. Dananya diberikan oleh keluarganya karena Harry sendiri meninggal sebagai salah satu korban Kapal Titanic pada tahun 1912.

Perpustakaan Harry Elkin Widener
Perpustakaan ini terdiri dari lima lantai di atas tanah dan empat lantai di bawah tanah. Memiliki koleksi buku cetak mencapai 15 juta judul, buku digital mencapai 18 juta judul dan jumlah foto ada 8 juta buah. Super lengkap! Menariknya mahasiswa bisa mengajukan judul atau jenis buku yang ingin dibaca tetapi tidak ada di perpustakaan dan akan dicari.

4. Harvard Art Museum
Museum yang berisi karya-karya seni yang dibuat oleh manusia dari jaman dahulu dari 4.000 tahun sebelum masehi hingga modern dari beberapa negara. Mulai dari Asia, Timur Tengah, Romawi, Yunani dan masih banyak lagi, sehingga kita tahu perkembangan karya seni di dunia.
Harvard Law School
5. Harvard Law School
Salah satu fakultas yang diincar banyak orang hebat dan menghasilkan banyak orang-orang hebat di dunia, salah satunya Presiden Obama. Wajar jika fakultas ini dijadikan salah satu fakultas terbaik. Dan ketika saya mengunjungi perpustakaanya di akhir pekan masih banyak mahasiswa yang belajar dengan serius di sana.


6. The Coop
Nah yang ini wajib buat yang ingin punya merchandise Harvard, ada banyak koleksi lengkap dengan desain Harvard, mulai dengan kaos, hoodie, sweater yang berwarna merah bata khas Harvard atau hanya sekedar huruf H besar di semua produknya, dan saya suka, karena H for Hijrah, hahaha. Sebenarnya ada banyak lagi outlet yang menjual merchandise Harvard di sekitaran kampus, tapi di The Coop koleksinya lengkap dan kualitas terjamin.
Menarik ya, paket tour berkeliling kampus Harvard University termasuk banyak peminatnya, termasuk peringkat pertama sebagai atraksi wisata versi Tripadvisor. Untuk sebagian mahasiswa Harvard yang membuka tour keliling Harvard, yaitu membuka kesempatan untuk mahasiswa yang tertarik dengan sejarah.

Mereka juga bisa mendapatkan tambahan uang untuk kebutuhan kuliah, melatih mereka untuk bercerita, dan meningkatkan kecintaan terhadap kampusnya, saya melihat beberapa mahasiswa yang menjadi pemandu terlihat sangat antusias bercerita tentang kampusnya ini.

YSEALI, Volunteering di Rosie's Place, Boston

Menjadi seorang volunteer atau relawan sudah saya kerjakan ketika saya menjadi mahasiswa Membantu orang lain sebenarnya membantu diri sendiri, tidak hanya membuat kepuasan batin tapi juga nantinya kita akan mendapatkan balasan dari tempat yang lain ketika kita membutuhkan. Karena di dalam Alquran Surah Arrahman 60 sudah dijanjikan juga, "tidak ada balasan kebaikan melainkan juga kebaikan."

Kali ini saya mendaftarkan diri menjadi volunteer di Rosie's Place Boston. Rosie's Place adalah tempat untuk melindungi perempuan-perempuan yang tidak memiliki rumah di Boston dan sekitarnya. Sejak 1974 Rosie's Place sudah menjadi tempat perlindungan bagi perempuan yang malang yang tidak punya tempat tinggal. Membantu mereka dengan mengajarkan keterampilan yang berguna untuk mereka melanjutkan ke hidup yang lebih baik.

Saya mengirimkan email kepada manajer Rosie's Place untuk mendapatkan informasi tanggal dan jam yang tersedia untuk melakukan volunteering di sana. Alhamdulillah akhinya dapat jadwal yang pas, yaitu Jumat pagi pukul 10:30 hingga siang hari pukul 13:30. Jadwal volunteering di sana padat, ada banyak sekali anak-anak muda yang tertarik untuk bergabung melakukan volunteering di sana, jadi terkadang harus menyesuaikan kesediaan tempat dan waktunya.

Di saat yang bersamaan ternyata ada volunteer lain ikut bergabung pada hari itu, saya bersama salah satu teman YSEALI Program, Seng dari Laos dan beberapa mahasiswa dari Universitas Harvard dan Universitas Boston. Mereka adalah Cester, Alexa dan Kim.

Bersama Cester dari Harvard University dan Seng Thong sesama YSEALI Profellows

Kami bertugas menyiapkan makanan di dapur untuk perempuan-perempuan yang datang ke sana, yang rata-rata sudah berusia paruh baya menjelang lansia. Tidak hanya makanan, di sana mereka juga bisa mendapatkan perlengkapan kebutuhan perempuan. Saya sempat bingung ketika seorang ibu datang menghampiri dan meminta pembalut kepada saya, soalnya di ruang makan, ditanyain pembalut dan kondom, aneh ya? Dan ternyata ada! haha. Pembalut, popok dan pengaman memang disediakan di sana, setiap yang datang boleh meminta, tapi juga dibatasi, setiap orang hanya boleh membawa tiga kotak saja.

Persiapan Roti untuk para gelandangan wanita
Sempat juga mencicipi makanannya dan ternyata enak sekali, jadi walaupun gratis, tidak ada makanan yang diberikan dengan rasa asal-asalan, ada koki khusus yang memang mengontrol kualitas masakan.

Tantangannya adalah ketika melakukan volunteering di Rosie's Place ada banyak. Salah satunya bahasa, karena yang datang ke sana adalah orang-orang yang asing, siapa saja boleh datang. Itu artinya ada banyak yang datang dari berbagai etnik dan bahasa ditambah lagi dengan aksen yang saya belum pernah dengar sebelumnya.

Bekerja dengan orang yang belum kita kenal sebelumnya, tapi jadi pengalaman menarik karena punya tujuan yang sama untuk melayani dan membantu orang lain. Belajar dengan sistem yang professional, karena walaupun kita bekerja secara sukarela, sistem kerja yang dipakai adalah sistem kerja pekerja professional. Kebersihan harus terjaga, melayani dengan penuh penghormatan, menyiapkan segalanya teratur, tertata rapi dan tepat waktu.
Bersama teman-teman Professional Fellowship YSEALI dari Laos, Vietnam dan Cambodia

Kalau teman-teman ditantang menjadi volunteer, kira-kira mau bekerja di mana?

Pernah dimuat di Portalsatu : http://portalsatu.com/read/Citizen-Reporter/menjadi-volunteer-di-rosies-place-37059

Jumat, 18 Februari 2022

YSEALI, Tenangnya Homestay di Cambridge, New England

Salah satu yang menarik dari Program YSEALI adalah kita akan tinggal di keluarga asli yang ada di Amerika Serikat, jadi kita akan mengalami langsung pengalaman menjadi orang Amerika, hehe. Ketika saya bercerita kalau saya ditempatkan di Boston, banyak sekali tanggapan positif dari orang-orang yang saya ajak bicara, mulai dari orang-orang Kedutaan Besar Amerika, Kedutaan Besar Indonesia di Amerika, bahkan sampai orang-orang di jalan, iya, agak sedikit mengherankan memang kenapa saya ajak ngobrol orang di jalan, hehe.

Rumah yang saya tinggali selama sebulan
di Program YSEALI, cantik ya
Jujur saja ini pengalaman pertama saya menginjakan kaki ke negeri Paman Sam, sangking saya senangnya jadi norak, haha. Apalagi semua biaya perjalanan ditanggung semua oleh Pemerintah Amerika dan semuanya diurusin, aahhh, kalau dulu cuma bisa bilang, Bahagia sampai Papua, sekarang sudah bisa bilang, bahagia sampai Amerika, hehe. Terimakasih YSEALI!

Selain mengikuti program magang kerja di perusahaan yang saya minta, saya dan teman-teman perwakilan ASEAN lainnya, bisa merasakan langsung kehidupan masyarakat Amerika dengan cara homestay dengan keluarga yang sudah dipilihkan. Saya sendiri walaupun kerja di Boston, saya tinggal dengan keluarga yang tinggal di Cambridge.

Cambridge sendiri merupakan bagian dari Kota Metropolitan Boston yang berada di bagian barat Sungai Charles. Ada tiga universitas tua di Amerika di sana seperti, Universitas Harvard, MIT dan RadCliffe. Karena adanya universitas-universitas itulah, kawasan itu diberi julukan kota pendidikan dan diberinama Cambridge untuk menghormati kota pelajar yang ada di Inggris. Jadi karena saya terpelajar makanya saya ditempatkan di sana, hehe. *Cocokology

Suasana perumahan di Cambridge

Perumahan yang ada di Cambridge sendiri termasuk perumahan yang elit, tertata rapi dan sangat mudah sekali dijangkau dengan transportasi. Saya tinggal dengan keluarga Jennifer Nahas, seorang Ibu dengan dua orang anak, Shopia dan Lucas yang sudah kuliah, ditambah lagi seorang anak kosan, Lena, yang kuliah di Kedokteran Harvard. Untuk Lena ada cerita tersendiri, ya selain dia pintar karena kuliah di Kedokteran Harvard, ada banyak rahasia yang menyeliputi si Putri keturunan Raja dari Syria ini, nah loh kebongkar sedikit, hehe, sabar ya!

Inilah penampakan rumah yang saya tinggali selama satu bulan, nyaman ya? rumah kayu tiga lantai, lengkap dengan basemen dan perapian, ditambah lagi taman di belakang rumah yang berisi tanaman bunga dan sayuran. Saya ketika sampai di rumah ini langsung jatuh cinta, dan satu lagi, warna rumahnya sesuai dengan warna partai pilihan, hehe, apasih.

Tapi memang rumah-rumah di Cambridge rata-rata seperti ini terbuat dari kayu yang disusun bertingkat-tingkat, hanya saja warna yang berbeda-beda dan hampir semua rumah tanpa pagar karena sudah dilengkapi kamera pengaman, dan ditambah lagi tetangga yang baik, lingkungan yang sangat ramah, jadi wajar kalau perumahan di sini termasuk yang punya nilai tinggi.

Bingkisan dari Globalimmersions.inc
Program homestay ternyata sudah jadi program hampir semua masyarakat di sini, jadi ketika saya dan teman-teman lainnya sampai di rumah, kami sudah disambut dengan surat dan bingkisan lucu dari koordinator homestay Boston, Global Immersion.inc. Surat-surat lengkap untuk hal-hal yang boleh atau tidak boleh dilakukan di rumah, transportasi dan jalur yang boleh digunakan, hingga jenis simcard HP yang bisa kita gunakan, lengkap. Jadi saya yang sangat awam dengan kota Boston dan sekitarnya, sangat terbantu.

Malah ada lombanya juga untuk mendapatkan bingkisan menarik lainnya dari mereka.

Bersama Ibu angkat saya
Beruntung sekali saya ditempatkan di Keluarga Nahas. Jennifer sendiri sebagai seorang single parent sangat baik ke anak-anaknya, termasuk saya dan Lena yang termasuk pendatang di rumahnya. Saya dan Lena juga termasuk dengan mereka karena beragama Islam. Tapi yang bikin terharu Ibu angkat saya ini bela-belain belajar untuk menyiapkan makanan halal, jadi saya sangat-sangat terjamin makan, walaupun ternyata si ibu lagi program diet, jadilah rasa masakannya gitu deh, tapi pilihannya, saya makan masakannya atau pilih makan Salad yang isinya daun-daun saja, makaaaaa, saya pilih...... masakan ibu, hehehe.

Selain orang ada lagi penghuni rumah, kucing lucu bernama Bubbles, tapi sering muncul kalau sedang lapar saja, persis, ya persis saya, haha.

Ada banyak cerita seru di rumah, nantinya saya akan ceritakan di postingan-postingan selanjutnya.

Welcome to Nahass Home, Have a good day!

YSEALI, Artists For Humanity, Cara Kreatif para Seniman Boston

Bekerja di Artists for Humanity beberapa bulan lalu menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi saya, karena bisa bekerja di perusahaan yang memiliki konsep kreatif yang menjadi impian saya selama ini. Artists for Humanity (AFH) adalah perusahaan kreatif yang berada di Boston, Massacussets, Amerika Serikat.

Kegiatan bersama pelajar yang mengambil program 3D

Perusahaan sosial ini bermula pada 1991 ketika Susan Rodgerson sebagai Founder dan Artistic Director bertemu dengan anak-anak muda di sekolah yang memiliki kemampuan di bidang seni terutama melukis. Tetapi mereka belum yakin dengan kemampuan mereka bisa menjadi salah satu karier di masa depan.

Bersama Susan Rodgerson, Founder AFH
Susan mengajak mereka, terutama Rob Gibbs dan Jason Talbot yang berumur 14 dan 15 tahun untuk membuat proyek bersama dan menghasilkan. Pada akhirnya mereka membentuk Artists for Humanity untuk mewadahi, memberi tempat dan kesempatan yang sama bagi anak-anak muda yang memiliki kondisi yang sama dengan mereka.

Hingga sekarang Artists for Humanity mengajak anak-anak muda bekerjasama dengan mentor untuk membuat karya-karya kreatif untuk menyelesaikan masalah yang ada di lingkungan dan juga memenuhi permintaan klien. Menggabung proses kreatif untuk perubahan sosial dan juga membantu perubahan hidup secara finansial untuk anak-anak muda.

25 Tahun sudah, hampir 3.000 anak muda yang sudah pernah berkerja dan menjangkau hingga 12.000 anak muda dalam kegiatan seni dan wirausaha. Semua berasal dari sekolah yang ada di Boston, dari berbagai jenis kulit, jenis kelamin dan berbagai bahasa.

Setiap Selasa hingga Kamis, anak-anak muda terutama anak sekolah, begitu sekolah usai mulai pukul tiga hingga pukul enam sore, mereka bisa magang di Artists for Humanity. Mereka membuat karya seni, seperti lukisan, kolase, 3D, desain grafis, video, dan foto.
Bersama mentor dan pelajar, berbagi cerita tentang Piyoh dan Indonesia
Kegiatan di Studio Melukis
Rob Gibbs, Mentor Painting
Nantinya hasil karya mereka akan dijual atau disewakan ke perusahaan-perusahaan yang membutuhkan karya seni, dan anak-anak muda yang karyanya dibeli atau disewa akan mendapatkan komisi. Selama magang mereka akan didampingi oleh mentor, belajar untuk menghasilkan karya-karya yang memiliki kualitas yang layak jual. Menariknya mentor di sini tidak memberikan instruksi atau perintah, tetapi mengajak anak-anak muda untuk diskusi dan berpikir secara ilmiah, karena yang digunakan adalah teknik STEM (Science, Technology, Engineering and Mathematics).

Secara proses, Artists for Humanity tidak hanya membantu finansial anak-anak muda di Boston, tetapi juga memotivasi mereka untuk menyelesaikan masalah pendidikan mereka. Banyak yang akhirnya termotivasi untuk menyelesaikan pendidikan mereka dan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi dengan motivasi yang positif.
Salah satu outlet AFH di Boston
Ada kurang lebih 40 pekerja tetap yang ada di Artist for Humanity, mulai dari direktur, mentor, finansial, manajemen dan development, mentor 3D, mentor melukis, mentor desain grafis, mentor fotografi dan mentor animasi. Semuanya terkumpul dengan kekuatan mimpi dari seorang Susan. Dia berkata, "lakukan hal yang positif untuk orang lain dan menyebarkannya, dan keajaiban akan datang."

Selain belajar, saya dapat kesempatan mengajarkan anak-anak muda yang sedang magang di Studio 3D untuk mengenal Aceh dan Indonesia melalui Kelas Kreatif yang biasa saya lakukan dengan teman-teman The Leader. Kami membuat Piyohtoys dengan bahan kokoru paper yang saya bawa dari Indonesia.
Mereka belajar bagaimana membuat karakter pribadi dengan bahan kertas dan mengenal Indonesia melalui karakter yang saya buat.Ternyata hasil karya yang kami buat membuat kami mengenal Indonesia dan Amerika lebih dekat, dan yang menariknya, Susan, Direktur Artists for Humanity dan Rich Mark, Direktur Marketing tertarik dengan konsepnya dan menunggu untuk penjualan produk tersebut ke jaringan internasional, wow! jadi tambah semangat ini.
Bersama Laurence, supervisor saya dan Susan, Founder AFH di acara Farewell party

YSEALI, Anak Muda Aceh Ini Wakili Indonesia Ikut Program Profesional ke Amerika

BANDA ACEH — Pemilik Piyoh Design Hijrah Saputra, akan terbang ke Amerika untuk mengikuti Program  The Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) Profesional Fellows Economic Empowerment Fall 2017 mewakili Indonesia.


Hijrah dipilih mewakili 10 negara ASEAN setelah melalui proses seleksi berkas dan wawancara. Setelah melewati seleksi sekitar 300 orang, akhirnya terpilih enam peserta mewakili Indonesia.

“YSEALI adalah program bergengsi yang diselenggarakan US Ambassy untuk memberikan kesempatan kepada professional-profesional muda di 10 negara ASEAN. Para peserta akan belajar dan merasakan langsung selama enam minggu berhubungan dengan para pekerja professional di Amerika, baik di pemerintahan, lembaga nonpemerintah, organisasi, dan bisnis pribadi,” kata Hijrah kepada portalsatu.com, Kamis, 5 Oktober 2017.

Selain merasakan bekerja dan membuka jaringan langsung dengan dunia internasional kata Hijrah, para delegasi akan tinggal langsung di rumah salah satu keluarga yang ada di sana, untuk belajar dan sekaligus merasakan hidup sebagai warga Amerika.

Program ini dilaksanakan mulai 10 Oktober hingga 17 November 2017 yang dilaksanakan di beberapa Negara bagian di Amerika.

“Untuk permulaan semua delegasi akan berkumpul di Washington untuk mendapatkan pembekalan orientasi program selama dua hari, kemudian dilanjutkan ke negara bagian penempatan, selama satu bulan, yang diakhiri dengan konferensi seluruh delegasi kembali ke Washington,” ujar pengusaha muda asal Sabang itu.

Hijrah sendiri mendapatkan kesempatan bekerja di Artists For Humanity, salah satu perusahaan yang bergerak di bidang kreatif di Boston, Massachuset.

Hijrah berharap Program YSEALI Profesional Fellows ini bisa menjadi media belajar bersama artis-artis di Amerika dan membuka jaringan dengan Pemerintah Amerika, terutama untuk pengembangan dunia kreatif di Sabang dan Aceh secara umum.

“Dan nantinya semakin banyak terbuka kesempatan untuk generasi muda professional Aceh lainnya yang berkesempatan belajar di Amerika,” kata Hijrah.

Selain Hijrah Saputra dari Aceh, lima profesional muda Indonesia lainnya yang lolos program ini yaitu Tisha Rumbewas, pemilik dan penggagas Sagu Foundation dari Papua; Nasarudin, penggerak Euronesia Sulawesi Selatan; Vidya Spay, dosen dan arsitek dari Solo; Annisa Hasanah, penggagas Ecofunopoly dari Bogor dan Muhammad Romdoni; penggerak KUSP Panyawungan dari Garut.[]

Sumber : https://portalsatu.com/pengusaha-muda-aceh-ini-wakili-indonesia-ikut-program-profesional-ke-amerika/

Plushindo, Cara Tuli Peduli Konservasi Hewan Langka Indonesia

Sudah sebulan lebih saya bekerja membantu istri saya dan teman-teman Tuli/tuna rungu Fingertalk dalam kegiatan Plushindo di Pamulang, Tangerang Selatan, Banten. Plushindo sendiri adalah boneka-boneka satwa langka Indonesia yang diproduksi oleh teman-teman Tuli yang nantinya akan menjadi bahan edukasi untuk anak-anak Indonesia terutama yang berada di dekat dengan habitat hewannya.

Team Plushindo
Awalnya saya kesulitan bekerja dengan teman-teman Tuli, karena untuk berkomunikasi dengan mereka saya harus belajar Bahasa Isyarat. Untungnya saya bekerja dengan istri saya sebagai Program Director, bisa menyampaikan apa yang saya maksud kepada teamnya dengan baik. Saya sempat heran, kenapa istri saya mau bekerjasama dengan teman-teman Tuli/tuna rungu, tingkat kesulitannya cukup tinggi, mendingan ngegosip atau ngomenin status orang di social media, rasanya itu lebih gampang. Dasar istri saya orang yang sangat sosialis, dia bilang,”ada kebahagiaan tersendiri bila kita bisa membantu dan membagi kebahagiaan buat orang yang membutuhkan, daripada menghabiskan energi untuk menyebarkan kebencian dan iri hati di social media.” Beuh, calon doctor emang beda.
Istri dan Lutfi (Team Plushindo)

Memang dilihat dari team Tuli yang ada di Plushindo punya cerita-cerita yang berbeda-beda dan menarik, lebih seringnya membuat saya lebih mensyukuri dengan apa yang saya miliki saat ini. Mereka kebanyakan datang dari keluarga yang kurang mampu, kebanyakan dari mereka juga menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Mereka berjuang dengan keterbatasan yang mereka miliki tidak untuk kepentingan pribadi tapi demi keluarga mereka. Ternyata ini yang memotivasi istri saya untuk terus berinovasi agar teman-teman tuli bisa terus berdaya, ah saya jadi tambah semangat.

Karakter di Plushindo
Saya di dalam Team Plushindo sebagai Creative Director. Orang yang mendesain karakter-karakter binatang langka Indonesia. Saya mencoba membuat desain yang bisa menarik perhatian anak-anak tetapi juga tidak menyusahkan team tuli untuk memproduksinya. Akhirnya jadilah Othan, Modi, Gatra, Ano, Peny dan Baja. Untuk awal ini kami memilih hewan-hewan yang mulai langka dan mewakili setiap pulau yang ada di Indonesia, Gatra (Gajah Sumatera) dari Sumatera, Othan (Orang Utan Kalimantan) dari Kalimantan, Baja (Badak Jawa) dari Jawa, Peny (Penyu Hijau) dari Bali, Modi (Komodo) dari NTT dan Ano (Anoa) dari Sulawesi.

Ternyata kerja dengan teman-teman tuli menyenangkan, ada beberapa hal yang menarik ketika saya bekerja dengan team tuli. Pertama, mereka berkerja sangat focus, karena mereka tidak terganggu dengan suara-suara lain termasuk musik, jadinya mereka akan bekerja hingga selesai tanpa gangguan suara apapun. Kedua, mereka selain focus, prioritasnya bekerja tanpa bergosip, karena mereka berbicara dengan menggunakan tangan atau jari, jadi tidak memungkinkan berisyarat selagi bekerja, kerjanya diselesaikan terlebih dahulu baru mereka berisyarat. Ketiga, mereka walaupun bekerja sesuai dengan yang kita inginkan, ternyata mau memberikan masukan untuk membuat produk yang kita kerjakan Bersama ini menjadi lebih baik, malah kami yang jadinya belajar dari mereka, ah senangnya.




Pernah suatu hari, Pak Agus, salah satu penjahit tuli, selesai menjahit, berdiri, beliau berkata, “alhamdulillah, selesai, semoga Plushindo, Fingertalk, Dissa dan Hijrah sukses semua,” dengan menggunakan Bahasa Isyarat yang indah. Nyess, rasanya ada rasa haru yang besar ketika melihatnya, ini yang dibicarakan oleh istri saya sebelumnya, merembes mili.

Tugas kami belum selesai, sudah lima karakter yang sudah jadi, masih sisa satu karakter lagi dan setelahnya masa edukasi ke anak-anak yang ada di dekat habitat hewan langka tersebut. Mohon doa dan dukunganya ya, jangan lupa follow ig : @plush_indo

Salam.